Categories BudayaHindu

DEMI SATYAGRAHA, PENYEDERHANAAN UPACARA AGAMA AKAN MEMPERKAYA TABUNGAN KELUARGA HINDU

PIAGAM TANTULAR – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Dharma Wacana di Desa Adat Renon Denpasar dan Saat Hadir di Pura Desa Adat Pinggan Kintamani Bangli

WEDAKARNA TEMUI RIBUAN UMAT DI PINGGAN KINTAMANI DAN RENON

“Menyederhanan upacara dan upakara adat Hindu Bali bukan berarti menghilangkan bebantenan, tapi hanya mengefisienkan. Efisien dalam biaya, efisien dalam waktu ( eedan karya ) dan efisien dalam menggunakan tenaga krama adat. Ini mutlak agar umat Hindu bertahan sebagai krama adat. “demikian diungkap oleh Senator DPD RI termuda dari Bali Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III usai mengadakan kunjungan kerja di Desa Adat Renon dan Desa Adat Pinggan Kintamani Bangli untuk kegiatan muspa bersama. Dalam kapasitasnya sebagai anggota DPD RI aktif, Senator AWK terus menggelorakan Piagam Tantular kepada masyarakat Hindu agar waspada terhadap gerakan ekonomi radikal, termasuk didalamnya semangat Satyagraha Hindu dalam menyederhanakan upacara agama. “Kesederhanaan upacara agama Hindu adalah mutlak. Apapun buatan manusia itu berhak dirubah. Dalam agama Hindu, hanya kebenaran Kitab Suci Weda ( Veda Vedanta ) yang tidak bisa dirubah sama sekali. Purana buatan manusia baik Resi Purana dan Raja Purani silahkan disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Dan saya gembira, di Bali sudah banyak desa adat di Bali yang merubah mindset agar penyederhanaan upacara dilakukan secara bertahap. Ini adalah wajah Hindu dimasa depan. Karena jika Hindu tidak memperbaiki diri, maka Hindu akan tenggelam dan musnah. Sudah ada contohnya Kerajaan Majapahit runtuh, karena diperkirakan bebantenan dizaman itu jor-joran, sehingga membuat rakyat Majapahit yang sudah miskin, mudah berpindah agama baru. Dan kita sudah lihat sendiri kan di Bali banyak umat Hindu pindah agama akibat tidak suka lagi dengan ribetnya adat dan budaya. Suka tidak suka, ya harus terima kenyataan ini. Kini tugas saya menyadarkan umat, saya ambil resiko ini agar Bali tercerahkan. Dan saya minta peran Desa Adat harus dikuatkan, desa adat harus diberikan dana lebih oleh pemerintah Bali dan yang pasti diayomi agar bebas dari saber pungli. Jangan lupa, perhatian negara terhadap operasional pura – pura kita mutlak adanya. Umat Hindu ada hak untuk itu karena ini NKRI bukan negara berbasis agama tertentu. “ungkap Senator AWK. Ia juga mengingatkan, agar krama adat di Bali harus dibiasakan dilatih untuk membuat sarana upakara sendiri, selain sebagai bagian dari Jnana Yadnya, mengerjakan bebantenan secara swadaya akan mengirit biaya lebih banyak. “Tempo hari saya datang keupacara disebuah Pura di Banjarangkan Klungkung, upacaranya tingkat utama, tapi semeton disana mengaku mengerjakan seluruh bebantenan dengan gotong royong. Bapak Ibu, Teruna Teruni semua mengerjakan bebanten dari A-Z, mereka hanya mengundang tukang banten dan tapini dari Griya untuk medidik umat dan akhirnya bisa me-reduce biaya hingga ratusan juta. Ini namanya Satyagraha. Saya senang jika ada desa adat dan juga Griya Griya yang baik hati memperhatikan umat secara Tatwa. Silahkan saja buat bebantenan, tapi harus efisien agar tabungan keluarga didesa habis untuk adat. “ungkap AWK. Iapun memiliki pandangan, lebih baik keuangan keluarga tidak dihabiskan untuk peturunan adat / peturunan, tapi disiapkan untuk pendidikan tinggi anak – anak muda di keluarga atau menyiapkan anak – anak muda menjadi pengusaha.”Salah satu ciri keluarga Hindu berdaulat ekonomi, dengan memiliki tabungan dan deposito. Tabungan itu bisa didapat hanya dengan memiliki pekerjaan yang layak dan diatas UMR, dan itu bisa didapat jika anak – anak kita berpendidikan tinggi dan juga menjadi pengusaha. Dan menjadi kaya adalah perintah kitab suci Weda. Selain itu, saya minta bendesa adat agar meringankan biaya peturunan, kasihan umat kita. Jika ingin mendapatkan dana, silahkan naikkan saja iuran khususnya pada warga tamiu yang berasal dari dura desa lan dura negara. Didik para pendatang bertanggungjawab pada budaya Bali. Orang Bali jangan kelelahan memelihara Bali, harus berani memerintah pendatang di Bali untuk tunduk terhadap dresta kita. Disana bumi dipijak disana langit dijunjung, It’s an ordinary matter “ungkap Gusti Wedakarna yang juga putra Shri Wedastera Suyasa, salah satu tokoh pendiri PHDI pada tahun 1959 di zaman Bung Karno. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *