Categories BudayaNasionalSatyagraha

RAKYAT JANGAN PILIH CALEG YANG SEBAR UANG DAN MUNCUL HANYA MENJELANG PEMILU

SATYAGRAHA– Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Bersama Semeton Jimbaran dan Semeton Swasti di Denpasar

“AWK42” PANEN DUKUNGAN DI DENPASAR DAN KABUPATEN BADUNG

Senator DPD RI asal Bali, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III panen dukungan saat hadir di Kuta Selatan dan juga Kota Denpasar saat acara Kampanye Pemilu 2019 disejumlah titik. Sejumlah pesan disampaikan oleh Senator Arya Wedakarna ( AWK ) terhadap situasi politik yang kian memanas menjelang tanggal pencoblosan yakni 17 April 2019. “Pada zaman perjuangan Bung Karno, saat PNI menang Pemilu 1955, disana ajang Pemilu menjadi ajang pendidikan politik, ajang kaderisasi pemimpin pemimpin tingkat pusat hingga anak ranting dan juga Pemilu menjadi ajang kegembiraan. Padahal ditahun 1955, yang bertarung itu ada partai nasionalis, partai agamais dan partai komunis salah satunya. Tapi kenapa Pemilu 1955 yang digelar oleh pemerintahan Bung Karno disebut sebagai Pemiu paling demokratis dan terbaik hingga saat ini ? Karena Pemilu saat itu adalah Pemilu bebas hoax, Pemilu bebas intimidasi dan Pemilu bebas money politics. Jadi harapan dari pemerintah agar Pemilu 2019 ini bebas Hoax, bebas SARA dan bebas money politic sebenarnya bukan barang baru. Tapi mari kita belajar dari sejarah, bahwa Indonesia punya kenangan hebat tentang Pemilu 1955. “ungkap Arya Wedakarna ( AWK ). Iapun menambahkan bahwa saat ini, masih diduga terjadi praktik kecurangan termasuk politik sebar uang yang dilakukan oleh sejumlah caleg politik, dan harapan agar masyarakat tetap teguh pada pilihannya. “rakyat khususnya kaum milenial harus tegas, jangan sampai memilik caleg yang dari awalnya sudah bermental curang. Salah satu wujud kecurangan itu, adalah caleg – caleg yang doyan menebar uang kekantong kantong desa atau banjar. Jika sampai masyarakat Bali mendukung caleg seperti itu, maka masyarakatlah yang bisa disalahkan, apalagi saat ini sudah ada UU yang melarang. Bahwa penerima dana dan juga pemberi money politic bisa dipidana dalam Pemilu. Tiang minta agar berhati hati manten. “ungkap AWK. Namun ia memuji, dari hasil kunjungannya keseluruh Bali, ia telah menemukan ada perubahan karakter positif dari masyarakat Bali terkait dengan pilihan politik, yang dimana masyarakat kini tidak bisa diatur dengan himbauan himbauan dari desa atau ormas terkait pilihan politik.”Di Bali ini banyak partai politik yang menghimbau kepada kadernya untuk memilih calon A atau B, begitu juga ada ormas yang menghimbau agar memilih calon A atau B, bahkan ada juga pimpinan Desa Adat yang meminta agar memilih si A dan B, tapi kita lihat saja, rakyat akan membelot dari arahan arahan seperti itu. Ibaratnya, rakyat sudah muak dengan intervensi politik penguasa dan juga ormas. Justru semakin diarahkan, maka rakyat semakin memberontak. Ini perlu tiang ingatkan karena situasi psikologi pemilih saat ini berbeda dengan yang lalu. Kita bisa kasi contoh, bagaimana saa Pemilihan Gubernur Bali tahun 2018 lalu kan ? Ada penguasa yang sombong menargetkan 70 % suara, tapi justru pencapaiannya dibawah harapan bahkan bisa dikategorikan tipis. Maka dari itu, ngiring, jadilah politisi santun, pemimpin yang mengutamakan Jnana Yadnya dan pemimpin yg berdiri diatas semua golongan.Itu tujuan Pemilu sesungguhnya, sebagai ajang evaluasi. “ungkap Gusti Wedakarna yang merupakan peraih suarat tertinggi di Pemilu DPD tahun 2014 ini. Dan dari pengamatan dilapangan, antusiasme rakyat Badung dan rakyat Denpasar terhadap AWK sangat terlihat disetiap acara yang dihadirinya. Rakyat Denpasar dan Badung berkomitmen untuk mengulang lagi kesuksesan AWK menjadi Pemenang Pemilu di Tahun 2019 sebagai harapan dari Sang Sarka ( Koordinator GPM ). “Tahun 2014, saat itu AWK belum banyak berbuat. Dan selama periode 2014 – 2019 menjadi Senator, AWK mampu menjadi tokoh sentral wakil rakyat yang sangat aktif dalam kegiatan. Jadi logikanya saja, pasti suara beliau akan terjaga dengan baik. Apalagi AWK adalah sosok netral, non partai politik dan masih muda, artinya memilih AWK seperti tidak ada beban. Beda misalkan kalau rakyat memilih caleg lainnya yang mantan atau bekas pejabat, beban politiknya besar dan belum tentu bersih juga.”ungkap Sang Sarka ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *