Categories BudayaSatyagraha

DEMI KETAHANAN HINDU DI MASA DEPAN, ANAK MUDA BALI SEYOGYANYA KEMBALI KONSEP 4 ANAK

FOTO – STAF KHUSUS DPD RI B.65 SAAT MENGHADIRI PAWIWAHAN TONY ANGGA WIJAYA, SP DENGAN NI MADE SANTHI MARDIANINGSIH, S.TR,AKT DI TANGGUWISIA SERIRIT

STAF KHUSUS DPD RI B.65 HADIRI PAWIWAHAN TONY ANGGA WIJAYA, SP DENGAN NI MADE SANTHI MARDIANINGSIH, S.TR,AKT DI TANGGUWISIA SERIRIT

Senator DPD RI Perwakilan Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna mengutus Staf Khususnya untuk menghadiri resepsi pawiwahan Tony Angga Wijaya, S.P dengan Ni Made Santhi Mardianingsih, S.Tr,Akt Di Tangguwisia Seririt. Kedatangan Staf Khusus Gusti Wedakarna disambut dengan baik oleh mempelai beserta keluarga. Pada kesempatan tersebut I Putu Merta Diantara (Staf Khusus DPD RI B65) Sebagai perwakilan menyampaikan permohonan maaf kepada kedua mempelai jika Gusti Wedakarna belum bisa hadir dan kehadiran Gusti Wedakarna masih atas keterwakilan, bertepatan Gusti Wedakarna masih dalam giat parlemen sebagai Senator/ Anggota DPD RI di Ibukota Negara sehingga sebagai bentuk perhatian dan untuk tetap menjaga konsep menyama braya sesama warih Bali dirinya tetap menyempatkan pikirannya untuk bisa mengutus kami untuk menghadiri undangan pawiwahan ini.” Kata Merta
Menanggapi hal itu, Tony selaku mempelai dan perwakilan keluarga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Gusti Wedakarna yang masih memikirkan bagaimana cara untuk menghadiri acar pawiwahan kami kali ini. “ Kami sangat paham dengan kesibukan Gusti Wedakarna apalagi saya juga mengikuti rekam jejak beliau sebagai utusan Bali,bagi kami dengan momentum kehadiran utusan Gusti Wedakarna keacara ini tentu sudah merupakan sesuatu yang sangat cukup berarti mengingat tidak banyak pejabat yang dekat dengan masyarakat seperti Gusti Wedakarna dan kedepan kami berharap dengan kedatangan utusan Gusti Wedakarna, kedepan terjalin hubungan persaudaraan yang baik. Ungkap Tony
Sementara itu, ditempat terpisah Gusti Wedakarna menyampaikan selamat berbahagia pada kedua mempelai dan berharap kedua mempelai selalu direstui Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ia juga berpesan sebagai pasangan yang baru membangun bahtera rumah tangga agar nantinya saling menjaga komitmen dan teruslah menjaga karma baik dengan menanamkan nilai-nilai yang tertuang dalam ajaran kitab suci Veda kepada anak yang dilahirkan nantinya. Saya yakin kelak kedua mempelai akan mendapatkan anak yang suputra yang nantinya menjadi Wedakarna yang jauh lebih hebat untuk membawa kedigjayaan Bali dan Hindu kedepannya. Kata Wedakarna
Lebih lanjut terkait dengan kehadiran utusannya di acara tersebut, Wedakarna menjelaskan jika kehadiran utusannya merupakan bagian dari tanggung jawab dirinya sebagai Warih Bali untuk tetap menjaga nilai-nilai konsep Menyama Braya yang ditanamkan leluhur sebagai bagian dari wujud representasi ajaran Tri Sakti Marhaenisme Bung Karno. “ Bagi saya, untuk menjadi warih yang baik tentu kita wajib menjalankan dan mengajarkan konsep kearifan lokal yang ditanamkan leluhur, apalagi diera digital dan globalisasi saat ini jika konsep Menyama Braya tidak sering dilakukan maka nilai ajaran positif tersebut pasti akan hilang ditelan jaman. Menyama braya tidak hanya menjadi kekayaan utama bagi kita sebagai warih Bali serta bagian dari nilai kearifan lokal yang menjadi landasan moral dalam membangun hubungan emosional sosial, akan tetapi sebagai seorang pejabat justru konsep Menyama Braya juga dapat dikonversikan sebagai sarana agar kita lebih peka terhadap riak-riak dan aspirasi dibawah, yakni tentang apa yang menjadi masalah dan kebutuhan krama kita saat ini. Dan sebagai pejabat tentu kita harus menjadi teladan bagi krama Bali lainnya.” Tegas Wedakarna
Tak lupa, ia juga memesankan agar nantinya kedua mempelai ikut serta untuk mendukung dan melestarikan program KB Bali 4. Menurutnya, jika konsep KB Bali dengan 4 anak selain sesuai dengan konsep filosofi Catur Warna (Brahmana, Ksatria, Weisya Dan Sudra) untuk mengawal dan menjaga keberadaan umat Hindu di Bali. Bahkan KB Bali 4 anak juga memiliki sisi positif secara internal dengan tujuan sebagai bentuk pelestarian dari adat, tradisi dan budaya daerah Bali yang ditinggalkan leluhur, apalagi konsep pelestarian tradisi KB Bali juga telah mendapat perhatian dan dukungan Gubernur Bali.
Lebih lanjut ia katakan, jika KB 2 anak dirasa belum tepat diterapkan di Bali, apalagi selama bertahun-tahun angka kelahiran umat Hindu di Indonesia dan Bali terkesan masih konstan, justru dengan keterbatasan angka kelahiran anak di Bali tentu akan berdampak pada sisi anggaran pemberdayaan umat Hindu di Bali. Bagi saya jumlah angka kelahiran yang lebih banyak bagi umat Hindu di Bali sama sekali tidak mempengaruhi krama adat untuk mengakomodir kebutuhan anak-anaknya. 2 atau 4 anak bahkan hingga 6 anak juga tidak mempengaruhi apapun, boleh disurvei, dengan 4 anak saja krama kami bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana bahkan masih sanggup menutupi kebutuhan lainnya. Saya menilai jika krama adat kami di Bali lebih baik degan KB Bali 4 anak, “ Kami yakin jika leluhur kami adalah orang yang hebat, apa yang ditanamkan leluhur kami pasti memiliki sebab dan akibat yang memiliki tujuan baik bagi kedaulatan Bali kedepannya.” (Hms)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *