Categories BudayaHindu

WEDAKARNA KECAM SEJUMLAH BUPATI DI BALI YANG GEMAR BERI BANSOS YANG HANCURKAN SITUS KUNO

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama I Made Bhakri Wiyasa ( Ketua BPJ ) Saat Hadir Di Acara BPJ di Denpasar

SENATOR RI HADIRI PAMERAN FOTO BAKTI PERTIWI JATI ( BPJ )

Senator DPD RI Provinsi Bali Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III mungkin wakil rakyat yang paling sering diundang oleh komunitas seni di Bali. Selain dikenal sebagai pejabat yang mencintai seni budaya Bali dan getol memperjuangkan seniman, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) juga sering dikenal sebagai senator yang sangat konsisten mendukung kelahiran maestro maestro seni baru dari Pulau Dewata. Demikian terekam saat Senator AWK menghadiri Pameran Foto Situs Kuno yang diadakan oleh Bakti Pertiwi Jati ( BPJ ) pimpinan seniman lukis Baktiyasa yang diadakan di Gedung Merdeka, Jl Surapati Denpasar. Dalam pameran yang berlangsung hinggal 9 Mei 2019 ini, Senator AWK menyampaikan kilasan sejarah kerjasama dirinya dengan BPJ. “Awal bertemu Bli Baktiyasa adalah saat ada kasus rencana pembongkaran Pura di Denpasar. Beliau dikenalkan oleh Dinas Kebudayaan,dan astungkara dari pertemanan itu, tiang terus berkomunikasi intens sampai akhirnya Komite III DPD RI memfasilitasi peresmian organisasi Bakti Pertiwi Jati ( BPJ ) yang dihadiri oleh Direktorat Jendral Kebudayaan ( Kemendikbud RI ). Dan melihat perjuangan yang sangat luar biasa dari kawan kawan BPJ, tiang ikut berbahagia, dan bagaimana dulu gerakan pelestarian situs budaya yang dilakukan tokoh per tokoh, kini sudah dilembagakan dengan resmi. Namun lembaga BPJ tetap membutuhkan dukungan pemerintah, kita tidak bisa biarkan sendiri. “ungkap Gusti Wedakarna. Dan terkait dengan maraknya pembongkaran pura, dan bangunan kuno di Bali, pihak AWK sangat menyayangkan dan mengingatkan bahwa itu berpotensi melanggar hukum. “Di Bali ini ada sejumlah Bupati yang sering sekali memberikan gelontoran dana cukup besar kepada desa dan pengempon dengan alasan bansos. Bagi saya sah sah saja jika Bupati ingin memberikan bantuan kepada siapapun, tapi jangan sampai salah mendidik masyarakat. Yang benar itu adalah bagaimana bangunan puro yang kuno, balai banjar yang kuno itu dipelihara, dan dikonservasi. Bukan berarti dibongkar dengan alasan pragmatis. Dalam UU No.11/2010 tentang Cagar Budaya kan sudah ada amanat bahwa bangunan diatas 50 tahun maka berhak menyandang status Cagar Budaya dan dilindungi oleh negara. Disini tampaknya ada Bupati yang tidak paham dengan visi kebudayaan. Sudah ada juga UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang memberikan amanat bagi pemerinah daerah untuk memaksimalkan perhatian pada komunitas. Jangan sampai ada pemimpin di Bali yang mengakui Sukanois alias pengikut ajaran Bung Karno, tapi tidak paham konsepsi kepribadian dalam kebudayaan. Kepribadian itu melestarikan situs sejarah, medukung ritus dan juga komunitas. Kalau membongkar pura, wantilan dan balai banjar itu namanya Bupati Proyek, bukan mendidik masyarakat. “ungkap Gusti Wedakarna yang juiga Presiden The Sukarno Center. Lalu apa yang harus dilakukan oleh para tetua adat, dan juga pengempon pura diseluruh Bali agar situs – situs tua di Bali bertahan ? “Saya ingatkan, jangan sesekali mengukur standar kebaikan niskala dengan standar sekala. Para Dewa dan leluhur, tidak perlu tempat ibadah yang mewah seperti standar manusia biasa, dan bagi leluhur yang penting adalah niat suci membangun tempat ibadah dan prosesi membangun pura di Bali dizaman dahulu membutuhkan kesucian tingkat tinggi. Dan saat ini muncul fenomena bahwa ada pura dan banjar dibongkar melebihi bansos yang diberikan, misalnya dapat bantuan Rp 500 juta tapi menghabiskan biaya sampai Rp 1 milyar dan sisanya pasti krama adat yang kena peturunan. Lagian didesa warga takut protes, apalagi jika bansos itu di iming – imingi dengan tekanan partai politik tertentu dan juga ormas tertentu. Ini laporan yang saya dengar dan tentu tidak patut. Lebih baik, jika desa dan pengempon mendapat bantuan, mari tingkatkan kualias SDM, manusia Hindu yang diberikan modal, sekolah atau dididik dengan baik. Mari mulat sarira, kenapa pura di Bali sekarang banyak yang terbakar, kena petir dan logsor, mungkin karena niskala sendiri kurang berkenan ya. Bagi desa desa yang masih punya pura kuno ( vintage ) mohon dipertahankan. Tiang akan tetap memperjuangkan hal ini. ” ungkap Gusti Wedakarna yang saat ini duduk di Panitia Perancang UU DPD RI. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *