Categories BudayaHinduSatyagraha

DESA ADAT BULELENG JADI TELADAN TERKAIT “KARANG SUCI” DAN KREMATORIUM

SATYAGRAHA –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Rapat di Kuburan ( Setra ) Desa Pakraman Buleleng

SENATOR RI WEDAKARNA ADAKAN RAPAT DENGAN KRAMA DI KUBURAN

Ada hal yang unik dari kunjungan kerja Senator DPD RI asal Bali , Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III di Kabupaten Buleleng, yakni dengan mengadakan rapat di Kuburan ( Setra ) Desa Pekraman Buleleng. Walau disediakan tempat yang nyaman di Kantor Desa, tapi Senator Termuda asal Bali ini lebih memilih rapat lesehan secara sederhana diwantilan Setra. Turut mendampingi Drs. I Gusti Komang Sumberjana  ( Kanwil Kementerian Agama RI Kab. Buleleng ), Ir. Nyoman Sutrisna, MM ( Klian Adat Desa Pekraman Buleleng ), Pengurus Yayasan Yayasan Pengayom Umat Hindu ( YPUH ), Majelis Desa Pekraman Buleleng, Pejabat Pemkab Buleleng dan Warga Desa Adat Buleleng serta sejumlah Sulinggih dan Ida Mangku. Adapun tujuan rapat tersebut untuk menindaklanjuti program pembangunan Krematorium di areal Setra Desa Pekraman Buleleng. Akhirnya setelah melalui komunikasi intens, pihak YPUH memilih lokasi di Setra Kayu Buntil. Terhadap hal ini, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) menyampaikan kebanggaannya bahwa semua pihak di Buleleng sudah bertekad bersinergi untuk memajukan kehidupan masyarakat Hindu di Kabupaten terluas di Bali ini, apalagi ada janji dari Bupati Buleleng yang akan membantu biaya pembangunan Krematorium sebesar Rp 1 – 2 Milyar. “ Kita pegang janji Bupati Buleleng yang saat rapat dengan DPD RI Bali dan juga para Prajuru bahwa Pemkab akan bantu pembangunan. Dan kini ngiring dibahas mengenai perjanjian kerjasama. YPUH sebagai lembaga yang dilindungi oleh UU Yayasan juga berhak beraktifitas, disatu sisi Desa Adat yang juga memiliki landasan hukum berupa UU Desa dan Perda Desa Pekraman juga berhak untuk didengar. Astungkara sudah ada kesepakatan dua pihak, dan kini tinggal teknisnya saja. Silahkan MOU segera diselesaikan, mangde niat mulia kedua pihak direalisasikan. Semua demi umat Hindu.”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun menyampaikan bahwa kedepan kebutuhan Krematorium semakin meningkat, karena krematorium tidak saja melayani umat Hindu Bali tapi juga umat Hindu Budha dari berbagai suku. “ Desa Adat tidak usah khawatir terkait eksistensi pekraman. Warga Bali yang memanfaatkan Krematorium tidak sampai 1% umat Hindu. Kadang kita akui bahwa ada umat kita bermasalah dan ada kendala. Krematorium ini untuk memenuhi unsur kemanusiaan. Jadi minta semua maklum, karena tiang mendukung pendirian crematorium diseluruh Bali.”ungkap AWK. Dalam kesempatan itu, AWK juga memberikan apresiasi atas usaha dari Desa Pekraman Buleleng yang berinisiatif dalam membangun “Karang Suci” untuk kalangan Sulinggih ( Pendeta ) apalagi Karang Suci ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh Pendeta dari berbagai trah dan daerah. “Terberkatilah Desa Pekraman Buleleng. Desa ini dari dulu memang terkenal baik dan revolusioner. Saya minta desa adat di Bali, tiru Desa Adat Buleleng. Mari bangun karang suci diseluruh Bali demi para Brahmana. Tidak semua Sulinggih itu mampu, dan ini termasuk bagian Rsi Yadnya. Astungkara, Bali Berdaulat dibidang agama Hindu. “ungkap AWK yang juga berdarah Buleleng ini. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *