Categories HinduSatyagraha

LEBIH MENJANJIKAN, WEDAKARNA MINTA SEMETON BALI TERJUN KEDUNIA USAHA KULINER

Satyagraha –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pak De Pung di Mendoyo Jembrana

WARUNG SUKLA MULAI RAMBAH KABUPATEN JEMBRANA

Mau cepat kaya ? Mau dapat keuntungan ganda dengan segmen pasar yang tiada habisnya, maka terjunlah ke dunia bisnis kuliner. Hal ini mengingat bahwa kebutuhan dari umat Hindu dalam memerlukan makanan yang  berkualitas ( suci dan bersih ) sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup. Salah satunya dicontohkan oleh Pak De Pung ( Pengusaha Hindu asal Desa Penyaringa, Mendoyo, Jembrana ) saat kunjungan kerja Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III di Kabupaten Jembrana. Ia merasa salut akan usaha dari Pak De Pung yang bersama sang istri membuka usaha kuliner ajengan Bali khas Jembrana diantaranya Lontong Lawar, Lontong Toge dan uniknya usaha ini dilakoni diatas mobil dengan design mobil toko ( moko ). “ Kabupaten Jembrana sudah mulai sadar akan ajengan Sukla. Dalam kunjungan kerja saya hampir di 5 Kecamatan di Jembrana, saya melihat sudah banyak warung – warung Bali yang Sukla bertebaran dimana – mana. Ini menandakan bahwa warga Jembrana sudah sadar akan kebutuhan makanan yang bersih, higienis dan suci. Dalam agama Hindu, spesifikasi Sukla jauh lebih ketat sebenarnya dibandingkan dengan agama lain, dan intinya makanan yang dihidangkan tidak sekedar bersih, tapi juga suci. Suci menurut agama Hindu tentu memiliki kriteria yang sangat jelas baik dari proses menyiapkan bahan, mencuci bahan makanan, memasak hingga menghidangkan. Satu hal yang tidak bisa dilupakan bahwa sebelum makanan itu dijual, para pedagang Hindu disarankan untuk mempersembahkan makanan itu ke hadapan Tuhan ( Ngejot Saiban ) dan seluruh warung dan restoran diperciki tirta amerta. Sehingga hal yang berbau cemer atau leteh akan hilang dengan sendirinya, tentu juga proses teknis akan sangat menentukan kadar kesucian. “ ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan menciptakan generasi muda yang mau terjun ke dunia bisnis, bahwa Bali memerlukan lebih banyak risk taker generation dan generasi yang ingin kaya raya dan salah satu jalan pintas menjadi generasi kaya adalah  mengurangi niat menjadi pegawai atau PNS. “ Saya banyak mendapatkan testimoni dari pengusaha Hindu, bahwa keuntungan mereka ketika berjualan bisa berlipat ganda. Apalagi jika didesa, hampir tiap hari ada upacara agama, dan segmentasi pasar umat Hindu sangat besar karena 90 persen di Bali adalah mayoritas Hindu. Dibeberapa tempat khususnya dipasar – pasar, rakyat mulai beralih ke ajengan sukla. Mereka berbelanja di warung yang ada plangkiran, warung yang dijual oleh semeton Bali dan warung pribumi. Satu hal yang membanggakan, bahwa jika ada semeton Hindu Bali berjualan, mereka akan lebih jujur  dan sangat menjaga kebersihan kesucian. Ada hukum karma phala yang mengikat orang Bali untuk berbisnis berjualan dengan jujur dibanding dengan pendatang dauh tukad. Selain itu ini implementasi dari berdikari ekonomi sebagai bagaian Tri Sakti. “pungkas Gusti Wedakarna yang juga Senator DPD RI  asal Bali ini ( humas ) .

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *