Categories HinduSatyagraha

SENATOR WEDAKARNA DORONG HIDUPKAN KEMBALI PROMOSI WISATA SPIRITUAL SIWA BUDHA KE NTB

Satyagraha – Senator RI, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Himpunan Kesatuan Mahasiswa Umat Budha Indonesia di Lombok 

MEMBANGGAKAN UMAT BUDHA MENJADI MAYORITAS KEDUA DI LOMBOK UTARA

Provinsi Nusa Tenggara Barat ( NTB ) adalah termasuk provinsi dengan jumlah umat Hindu dan Budha yang jumlahnya cukup banyak diluar Bali. Dari sisi kesejarahan dan keturunan orang – orang suci Majapahit, kerajaan Hindu Karangasem pernah menaklukan Lombok pada abad XVIII sehingga dibangunlah pura pura besar di pulau Lombok. Candi Narmada, Suranadi, Batu Bolong, Lingsar, Gunung Sari termasuk Pura Rinjani adalah contoh nyata bahwa Hindu sebagai agama tertua di Indonesia memiliki pengaruh besar pada NTB. Belum lagi sejarah mencatat dipulau Sumbawa, khususnya di Bima, terdapat situs Hindu yang langka yakni Situs Wadu Pa’a yang jelas sebagai peninggalan Hindu Kuno. Dalam sejarah Kerajaan Majapahit, keturunan Maharesi Majapahit Sri Aji Kresna Kepakisan pernah memimpin Sumbawa atas perintah Ratu Tribhuwana Tungga Dewi dan juga catatan adanya jejak Dang Hyang Nirartha di Pura – Pura di Lombok. Termasuk pengakuan para tokoh Budha di Lombok Utara yang mengatakan bahwa umat Budha di Lombok ( yang sebagian besar bukan keturunan etnis Tionghoa ) adalah keturunan dari orang – orang suci. Dan kerjasama antara umat Siwa Budha diseluruh Nusantara adalah mutlak demi kebangkitan spirit Majapahit. Demikian diungkap oleh Senator RI asal Bali Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III saat diundang oleh Himpunan Kesatuan Mahasiswa Budha Indonesia ( Hikmabudhi ) di Wihara Tertua ( Vihara Damma Vinaya ) di Tanjung Lombok Utara Nusa Tenggara Barat. Tampak hadir Pembimas Budha Kementerian Agama NTB, Romo Pandita, Tokoh Lintas Agama, Ketua Umum HIKMABUDHI dan pengurus.  Berbicara didepan ratusan peserta Jambore Tunas Mahasiswa Budhis, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) menyampaikan pandangannya bahwa promosi NTB sebagai wilayah spiritual Siwa Budha di Nusantara harus digalakkan kembali demi cita – cita menegakkan kedaulatan kebudayaan Pancasila. “ Saya merasa ada yang hilang dari promosi pawisata di NTB. Dulu promosi tentang pura – pura, adat istiadat warga Bali dan tempat wisata bernuansa Hindu sangat marak. Makanya ada istilah bahwa Lombok adalah Bali Tempo Doelo. Tapi sekarang, kemana promosi wisata Hindu dan Budha ? Dan ayo kita bantu pemerintah Joko Widodo dan juga pemerintah daerah dengan menggalakkan kembali wisata spiritual ( Tirta Yatra ) ke Lombok. Saya akan rancang program bersama tokoh umat Hindu diBali dan NTB agar kembali kita revitalisasi wisata bernuasa spiritual Hindu dan Budha. Apalagi kita ada UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang mengamanatkan pada negara bahwa situs kuno dan situs leluhur berhak dipelihara dan dijaga.’’ungkap Gusti Wedakarna. Iapun memberikan semangat kepada umat Budha di Lombok bahwa mereka berjuang tidak sendirian, tapi ada 6 negara di ASEAN ini berbasis Budha. “Siapa bilang umat Budha minoritas di ASEAN ? Umat Budha itu mayoritas karena ada  Thailand, Kamboja, Laos, Burma, Vietnam, Singapore yang banyak umat Budhanya. Di Malaysia juga umat Budha menguasai ekonomi, di Indonesia umat Budha lebih hebat lagi karena sektor ekonomi dan perdagangan dikuasai. Dan umat Budha memiliki jaringan di negara China, Taiwan, Jepang dan Korea. Jadi saya minta Percaya dirilah sebagai warga bangsa. Jaga terus toleransi, tapi harus bangga dengan jati diri. Termasuk merebut posisi strategis diseluruh jaringan. Jangan melulu jadi guru agama atau PNS atau pengusaha, tapi saya mau ada anak muda Budha bisa masuk Akpol, Akmil, Hakim, Jaksa, Menteri, Dirjen dan Duta Besar. Kalau mau berdaulat, ya harus berkuasa walau minoritas. Saya yakin jika Hindu dan Budha bersatu, saling membantu dan bersinergi, akan bermanfaat untuk pembangunan Indonesia. Ini berlaku bukan saja untuk Bali dan NTB tapi seluruh Indonesia. “pungkas Gusti Wedakarna yang juga Duta Besar Perdamaian UPF – PBB. (humas).

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *