Categories Hindu

WEDAKARNA APRESIASI PERMINTAAN MAAF TOKOH MUSLIM DIHADAPAN PRAJURU DESA

NASIONALIS –  Senator DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWSI II Bersama I Ketut Murdana, S.Sos ( Perbekel ) dan Komponen Banser dan Ansor NU Di Kantor Desa Tegallinggah

SENATOR RI SOROTI KASUS SPANDUK FPI DI DESA TEGALLINGGAH

Ribut ribut masalah adanya spanduk provokatif yang mendukung Front Pembela Islam ( FPI ) dan Rizieq Shihab ( Tersangka Sejumlah Kasus di Polri ) didepan sebuah masjid di Desa Tegalinggah, Sukasada Buleleng ditindaklanjuti oleh Senator RI asal Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. Dihari yang sama dengan rapat Desa terkait dengan ditemukannya sejumlah oknum yakni 11 orang anak muda yang diduga melakukan pemasangan spanduk yang dinilai anti Pancasila, Senator Wedakarna langsung menemui I Ketut Murdana, S.Sos ( Kepala Desa ) dan Klian Dusun serta tokoh desa setempat. Dalam penjelasannya, Perbekel Desa Tegallinggah menyampaikan sejumlah kronologi kejadian hingga penjelasan penyelesaian secara bertahap yang dilakukan oleh pihak desa, diantaranya melaksanakan pertemuan dengan tokoh Muslim dan ditindaklanjuti dengan pertemuan langsung dengan 11 orang oknum warga yang sebagian besar anak – anak muda usia yang diduga memasang Spanduk Provokatif yang sampai menjadi perhatian nasional. Apresiasi atas kinerja pihak desa dan aparat keamanan disampaikan oleh Senator Arya Wedakarna ( AWK ). “ Saya senang dengan figur bapak perbekel Tegallinggah. Beliau punya sense intelijen yang baik. Dari laporan tadi, ternyata beliau tidak puas dengan hasil pertemuan hari pertama yang hanya melibatkan para tokoh. Beliau bergerak dan mengumpulkan informasi dari banyak pihak, sampai akhirnya ketemu 11 pelaku pemasangan spanduk. Walau kecolongan, tapi kedepan saya minta semua pihak waspada. Apalagi spanduk FPI itu katanya dibawa dari Jawa. Dari awal saya sudah curiga, tidak mungkin ada provokator dari luar desa yang memasang spanduk itu, pasti ada local boy, karena kehidupan tetangga umat Hindu dan Islam ini disini sangat dekat. Ini kecolongan. Saya yakin desa adat, pekraman dan para aparat akan semakin waspada terhadap gerakan radikalisme.”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun menyampaikan bahwa kasus ini bisa menjadi pelajaran, bahwa tidak semua orang yang tinggal di Bali memiliki pandangan yang sama terkait Pancasila. “ Masyarakat Bali ini kan pendukung pak Ahok, masyarakat Bali khususnya umat Hindu mendukung langkah Polri untuk menetapkan tersangka pada Rizieq Shihab yang menghina Pancasila dan menghina Bung Karno yang orang Buleleng ( Berdasarkan Laporan Sukmawati Sukarno Di Mapolda Jabar ). FPI juga bermasalah dengan pecalang di Bali dan kasus sedang diproses di Polda Bali. Jadi jika ada warga tamiu non-Hindu yang mendukung FPI dan Rizieq Shihab, artinya sudah berseberangan dengan orang Bali. Jadi umat minoritas di Bali harusnya menjaga kedaulatan budaya Hindu lewat desa adat. Syukurlah pelaku dari pemuda Muslim dan tokoh Muslim sudah meminta maaf lewat surat pernyataan. Saya sudah terima copy suratnya dan akan kita apresiasi. DPD RI Bali akan koordinasi dengan 1488 desa adat, agar Bali Waspada. Kasus Tegallinggah akan kita jadikan contoh“ ungkap Gusti Wedakarna. Pihaknya juga mengucapkan terimakasih atas peran Banser Ansor dan NU yang ikut meredam masalah ini. “ Saya agak kaget juga jika spanduk pro FPI ini ada di Tegallinggah yang katanya basis NU. Padahal selama ini NU selalu bersama – sama kami kaum nasionalis menjaga NKRI. Semoga kedepan tidak kecolongan dan agar diadakan pembinaan internal. Jangan sampai paham radikal dan wahabiyah masuk pulau Dewata. NU dan saya punya visi yang sama untuk yang satu ini. “ungkap Gusti Wedakarna.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *