Categories BudayaHinduSatyagraha

WEDAKARNA MINTA DESA ADAT STOP KEBIASAAN MEMBONGKAR PURA KLASIK

SATYAGRAHA –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Disambut Warga Adat di Sukasada Buleleng

WARGA ADAT KERASAN DAN TISTA MESADU KE DPD RI TERKAIT STATUS

Keunikan sebuah kekayaan budaya sebuah desa biasanya memicu seseorang untuk tertarik dan menoleh potensi desa tersebut, bahkan bisa jadi menimbulkan rasa penasaran. Ini terbukti ketika sosok tokoh Hindu Indonesia Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III hadir di Desa Adat Kerasan dan Desa Adat Tista di Kecamatan Sukasada Buleleng. Ia hadir karena penasaran terhadap dua hal, yakni adanya simbol Dalem Waturenggong dan keberadaan Pura Desa dan Pura Dalem dalam satu natah, padahal lazimnya di Bali, yang selalu bersandingan adalah Pura Desa ( Brahma ) dan Pura Puseh ( Wisnu ). Demikian yang terekam dalam kunjungan kerja Gusti Wedakarna ke Bantang Banua. Selain meninjau Pura, dan bersembahyang, Gusti Wedakarna juga didaulat untuk bertemu warga di Madyaning Mandala Pura yang mana tokoh adat juga menyampaikan sejumlah aspirasi. “ Kami senang sekali bahwa Ratu Gusti Wedakarna sampun berkenan tedun ke desa kami. Dan kami ingin menyampaikan bahwa sampai saat ini kami belum mendapatkan status sebagai desa adat ataupun banjar adat di Sukasada. Begitu juga dengan Desa Adat Tista. Ini permasalahan sudah terjadi bertahun tahun dan belum ada solusi. Dan ditahun 2017 ini juga muncul masalah Setra. Kami mohon bantuan dari DPD RI untuk memediasi hal ini. “ungkap Jro Mangku Made Pasek Sugiarta ( Klian Adat Desa Kerasan ). Terkait dengan hal ini, Gusti Wedakarna menyampaikan pandangannya bahwa sudah sepatutnya kini orang Bali bersatu, dan berharap masalah – masalah domestik yang melanda orang Bali agar diselesaikan dalam konteks menyama braya. “ Tiang sudah dengar semua aspirasi dan kronologis dari pihak Desa Adat, dan sebenarnya permintaan warga sederhana saja yakni ingin diakui sebagai banjar adat dan ikut bersama – sama membangun Sukasada bersama Desa Adat induk di Sukasada. Saya akan berkomunikasi dengan Bupati Buleleng, Dinas Kebudayaan Buleleng dan Majelis Desa Pekraman. Tiang yakin ada solusi karena aspirasi warga niatnya baik dan justru ingin sinergi. Walau tiang paham ada beberapa hal yang harus disepakati dan seharusnya itu mudah dicapai. Logikanya begini, UUD 1945 yang konstitusi republik saja bisa dirubah, apalagi hanya urusan didesa. Jika koridornya Pancasila pasti bisa. Tapi tiang harus mendengar dua arah dulu. Kita akan koordinasi di Kabupaten. “ ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan rencana pembongkaran penyengker kuno di Pura Desa dan Pura Dalem ini, pihak Gusti Wedakarna dengan tegas menolak. “ Bagaimana mungkin tembok penyengker kuno ini dibongkar ? Kita punya UU Cagar Budaya No.11/tahun 2010. Justru pura “vintage” ( Klasik ) ini bisa didaftarkan menjadi Cagar Budaya. Saya menolak, apalagi pura ini, menurut informasi pengempon dibangun sebelum masa Dang Hyang Nirartha karena awalnya tidak ada pelinggih Surya. Ini termasuk pura Kuno, dan jika dibongkar, direnovasi dan diganti maka bukan pura klasik lagi. Saya minta warga di Bali, kurangi kebiasaan membongkar pura – pura kuno, karena taksunya akan jelas berbeda. Jangan sesekali mengukur keindahan niskala dengan keindahan duniawi ( sekala ). Kalaupun harus diperbaiki tapi libatkan arkeolog dan jangan merubah bentuk asli atau bahan awalnya. Mungkin penyebab hilangnya taksu Bali ini karena secara spiritual pura – pura kita sudah tidak asli lagi. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga putra pendiri PHDI, Shri Wedastera Suyasa ini ( humas ).

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *