Categories Satyagraha

ADAKAN PELATIHAN PEMBUATAN JAMU / LOLOH SUKLA BAGI MASYARAKAT

Satyagraha – Foto Para Peserta Pelatihan Pembuatan Jamu / Loloh Sukla di Kantor Badan Dana Punia Hindu Nasional ( BDPHN )    

SERANGKAIAN HARI JADI SUKLA SATYAGRAHA KE – 2 DI KANTOR BDPHN

Gerakan Sukla Satyagraha ( GSS ) yang digagas oleh Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III sudah memasuki tahun ke – 2. Selama dua tahun ini sudah banyak kegiatan dari GSS ini yang secara intens terus mensosialisasikan gerakan Sukla ke seluruh daerah, dan sejumlah produk pun sudah mencantumkan logo Sukla di kemasannya. Satu contoh yang nyata, kawasan Bedugul dulunya tidak ada kuliner babi, tapi saat ini sudah mulai bermunculan pengusaha pengusaha babi. Begitu pula telah sukses menyelenggarakan festival ajengan sukla di kabupaten Tabanan. Hal ini tentu menjadi prestasi yang menggembirakan karena potensi mengangkat ekonomi lokal Sukla adalah branding masa depan Bali. Hal senada diungkapkan oleh I Wayan Widi Adnyana ( Ketua Umum Sukla ) “ Masyarakat Bali mulai fanatik dan mulai makan di warung-warung orang Bali, warung yang ada plangkiran dan warung Sukla. Sukla disini bermakna suci, artinya semua proses makanan harus menggunakan bahan yang diperlakukan suci, menggunakan perabot yang suci, dan juga harus menggunakan budaya Hindu. Hal ini akan kami sosialisasikan lebih gencar kepada pengusaha – pengusaha Hindu Bali dan semoga gerakan sukla ini dapat membawa dampak yang lebih baik lagi kedepannya “. Serangkaian dengan Hari Jadi Gerakan Sukla Satyagraha diadakan pula pelatihan pembuatan jamu / loloh sukla yang menghadirkan narasumber sekaligus pemandu tutorial yakni Prof. Ir. Wayan Redi Arianta, M.Sc, Phd ( Ahli Sanitasi dan Gizi Unud ) dan Putu Swastawa, S.Si ( Owner Daluman Dedari ). Kegiatan ini dihadiri oleh kalangan pengusaha, mahasiswa dan masyarakat umum. Hal ini sangat penting bagi masyarakat Bali, proses pembuatan loloh yang diarahkan langsung oleh ahli sanitasi dan gizi Unud. “ Kegiatan ini untuk mengedukasi masyarakat agar bisa membuat loloh / jamu yang bisa dibuat dirumahnya masing – masing dengan proses yang bersih dan pastinya sukla “ Ungkap Prof. Redi.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *