Categories BudayaHindu

GUSTI WEDAKARNA TRADISIKAN AGNIHOTRA DAN LANTUNAN KITAB WEDA DI PURI TEGEH KORI

TRADISI –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Kerabat Disela – Sela Acara Manusa Yadnya di Puri Tegeh Kori Badung

KARYA I GUSTI AYU RATU SIMA SARASWATI GEETA ADISHATI W SUYASA

Puri Tegeh Kori Ring Badung memiliki hajatan yang cukup besar pada  (22/7) lalu yakni dengan mengadakan karya Manusa Yadnya ( Piotonan Lan Upacara Enam Bulanan ) Pradana Puri yang merupakan putri keempat dari  Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitry Wedasteraputra Suyasa bersama Jero Melati Merry Dyanti, ST. Upacara yadnya ini dipuput oleh Ratu Sulinggih Ida Shri Bhagawan Nabe Wira Kerthi ( Griya Tegeh Kori Buleleng ). Hadir pihak keluarga dari semeton Tegeh Kori Penyaringan Jembrana dan sejumlah kerabat puri. Uniknya Upacara Manusa Yadnya ini dipuncaki dengan upacara Agni Hotra dan Pembacaan Kitab Suci Hindu Bhagawad Gita yang diikuti oleh ratusan tamu undangan yang hadir. Upacara Agnihotra ini dipimpin oleh Pandit Narayan yang bertujuan memohon kemuliaan dari Dewa Agni dan Dewi Durga atas berkat yang telah diberikan oleh keluarga puri khususnya telah lahir penerus dan warih dari leluhur Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori. Sedangkan pembacaan Kitab Suci Bhagawad Gita dipimpin langsung oleh Penglingsir Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa yang membacakan Sloka Bhagawad Gita di Bab VII tentang Jnana Yadnya, yang mana bertujuan agar putri yang dilahirkan senantiasa mendapatkan berkah pengetahuan dan kemuliaan sesuai dengan Wahyu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa ( Vasudewa Krisna ). Sebagaimana diungkap oleh Shri Gusti Wedakarna. “Sebagai bagian dari warih Majapahit, kita sepatutnya menata tradisi dengan baik. Tradisi dan kebudayaan itu tidak hanya selesai ditingkatan leluhur, pakem – pakem tidak saja diciptakan oleh raja – raja di masa lalu, tapi dikehidupan saat ini, setiap warih baik Abhiseka Raja maupun Penglingsir di puri masing – masing dapat menguatkan tradisi baru dengan penyempurnaan pengetahuan. Prinsip 5 P dalam menjalankan tradisi puri tetap harus dijalankan yakni Pura ( Tempat Pemujaan ), Puri ( Kediaman ), Pusaka ( Peninggalan Leluhur ), Purana ( Sejarah Leluhur ), dan Pasar ( Ketahanan Ekonomi ). Jika bukan umat Hindu yang menghidupkan tradisi Majapahit, lalu siapa  lagi ? Jangan sampai tradisi kita diklaim milik orang lain. Saya ingin menanamkan tradisi ini pada generasi muda kedepan. Tradisi itu kan harus ditunjukkan, diadakan dan diberi panggung agar Puri tidak menjadi monument mati. “ungkap Gusti Wedakarna.  Iapun menitikberatkan bahwa ilmu pengetahuan adalah hal yang utama dari setiap manusia. “Dalam hidup ini, yang paling penting bagi setiap manusia yang hadir adalah menguasai Jnana dan menggunakan Jnana untuk kepentingan agama, bangsa dan Negara. Apalah arti gelar kebangsawanan, apalah arti kemegahan tembok puri dan istana, serta kekayaan material duniawi, warih (pratisenatana) leluhur, jika keturunan kita tidak mampu menjadi teladan. Sejak kepemimpinan ( Swargi ) Shri Wedastera Suyasa, kami sangat dituntut untuk selalu  mengutamakan tata krama. Setiap pikiran perkataan dan perbuatan haruslah terukur dengan baik. Kami meyakini konsep Manunggaling Kawula Gusti dan juga Sabdo Pandhito yang mengikat keluarga puri dalam bertindak tanduk. Semoga putri Ratu Sima dapat menjadi pemimpin Bali dan pemimpin Bangsa nantinya. “ ungkap Gusti Wedakarna yang juga Sekretaris Jendral di Pasemetonan Ageng Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori ( PANDBTK ). Dipuncak acara, Gusti Wedakarna memberikan Cihna dan Penganugerahan berupa nama untuk Pradana yang diupacarai yakni I Gusti Ayu Ratu Sima Saraswati Geeta Adishati Wedawitryputri Suyasa yang berarti seorang putri yang tegas seperti Ratu Sima, memiliki pengetahuan dan kecantikan selayaknya Dewi Saraswati dan menjadikan Bhagawad Geeta sebagai pedoman hidup dan dapat berkuasa selayaknya Adhishati ( Sakti Siwa ). ( humas )

 

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *