Categories Hindu

BUDAYA HINDU MENYENTUH COKOR PENGLINGSIR MENJADI BAGIAN TRADISI PURI

TRADISI ROYAL DINER GALUNGAN DI PURI TEGEH KORI BADUNG

Puri Tegeh Kori Badung menerapkan tradisi yang ketat dalam setiap perayaan hari – hari besar Hindu, hal ini dimulai sejak kepemimpinan ( Swargi ) I Goesti Ngoerah Shri Wedastera Soeyasa  yang mulai menata Duwe Tengah di pusat kota Denpasar yg merupakan peninggalan leluhur Arya Tegeh Kori Jembrana yang kini diperuntukkan sebagai Puri Ageng Tegeh Kori Badung sesuai amanat Ratu Kakiang I Goesti Ngoerah Ketoet Soeyasa ( tokoh pendiri Penyaringan Mendoyo Jembrana ). Dan tradisi dan protokoler hari – hari besar Hindu selalu diutamakan di Puri Tegeh Kori Badung sebagai bagian dari pelestarian budaya Bali Majapahit. Demikian diungkap oleh Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitry MWS ( Purusa Puri ) saat jelang acara Jamuan Makan Malam ( Royal Dinner ) di Wantilan Puri. ” Sebagai warih Raja Badung I, I Gusti Tegeh Kori, kami sebagai warih dalem ingin memberikan teladan bahwa tata etika dan sesana sebagai umat Hindu itu penting dilakukan. Atas petunjuk Ida Gusti Wedakarna sebagai penglingsir, kami diminta untuk menghidupkan kembali tradisi – tradisi Hindu yang diharapkan memperkuat sradha dari para pratisentana. Salah satunya wajib untuk mengadakan Jamuan Resmi bagi semua putra putri, cucunda dan keluarga besar semua. Mau tidak mau siapapun warih kami baik yang diluar negeri, luar Bali ya harus pulang ke Bali menghadiri acara ini. Dan ini sangat berguna untuk menjalin kekerabatan dan silakrama. Jamuan makan malam pun tidak sekedar ngajeng dan wareg tapi lebih pada komunikasi. Ini maknanya.” ungkap Turah Wira Weda. Iapun menyebutkan sejumlah tradisi Majapahit yang mulai dihidupkan di Puri Tegeh Kori. ” Tradisi Membaca Kitab Suci Bhagawad Gita dengan mengundang anak – anak yatim piatu sudah dimulai dari dulu dipuri. Sebulan kami bisa mengundang dua kali dan biasanya pada saat ada hajatan seperti Manusa Yadnya. Dan pencucian pusaka kami hidupkan juga setiap hari besar sesuai tradisi jawa kuno. Biasanya dilakukan di Istana Mancawarna Tampaksiring saat Sugeng Wiyosan Tinggalan Dalem Penglingsir dan Peringatan Ngadeg Ratu. Semua tradisi – tradisi itu sebagai bagian dari menonjolkan budaya Hindu. Bali adalah representatif dari Budaya Hindu Dunia. ” Ungkap Gusti Wira Wedawitry yang juga Wakil Ketua KNPI Bali. Ia pun berencana akan menerbitkan buku tentang sejumlah dokumentasi ritual – ritual dan tradisi dipuri yang rencana akan diterjemahkan ke beberapa bahasa. ” Banyak yang tidak tahu ada makna makna unik dibalik tradisi kami, misalkan disetiap puri atau istana Tegeh kori ada tradisi menaikkan bendera kuning emas saat ada penglingsir sedang di Bali. Begitu juga ada tanda tertentu di Istana yakni ketika ada lampu kristal menyala, itu artinya sedang ada paruman. Kami juga ada 8 macam penjor yang merupkan tradisi lama dan baru. Termasuk ada tradisi menyentuh cokor penglingsir setiap bertemu dan tradisi mencuci kaki penglingsir dihari – hari tertentu. ” ungkap Tu Rah Wira.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *