Categories BudayaHindu

WEDAKARNA BERHARAP PRAJURU ADAT PIMPIN TRADISI KESEDERHANAAN YADNYA

SATYAGRAHA –  Senator RI, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Tokoh Adat Desa Puhu Payangan Gianyar

BIAYA NGABEN MASAL DI DESA PUHU GIANYAR HANYA RP 1 JUTA PER-KK

Senator RI asal Bali Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Gianyar, menyempatkan diri meninjau karya Pitra Yadnya Ngaben Masal di Desa Adat Puhu Gianyar. Yang mengagetkan bahwa pihak Desa Adat mampu membuat upacara Ngaben Massal hanya dengan biaya Rp 1.000.000 ( Satu Juta Rupiah ) Per-Sawa ditambah adanya partisipasi bagi warga yang tidak ikut ngaben yakni 10% dari biaya yang dikeluarkan yakni sekitar Rp 100.000 per-KK. Sistem gotong royong ini tentu sangat membantu  masyarakat yang tidak mampu, disamping itu, angka inipun mengalami penurunan dari biaya dimasa lalu.  Terhadap  hal ini, Gusti Wedakarna memberikan apresiasi kepada prajuru desa adat, yang telah dengan membantu rakyat dengan kebijakan yang membumi. “ Saya puji Jero Bendesa, Prajuru Adat dan juga semeton warga Desa Puhu. Dimana – mana saya masih menyaksikan biaya Ngaben yang rata – rata masih diatas Rp 5 Juta bahkan ada yang diatas Rp 10 Juta. Tapi dengan melihat langsung di Desa bahwa kesederhanaan upacara dapat diwujudkan. Biaya murah dalam upacara ini sangat membantu ketahanan keluarga – keluarga Hindu di Bali. Apalagi di Gianyar selama ini dikenal banyak upacara yang mahal dan ribet, tapi Desa Puhu Payangan ini membalikkan stigma ini. Atas nama pribadi dan lembaga Negara DPD RI, saya mengucapkan terimakasih atas semua usaha ini. Menyederhanakan bukan berarti menghilangkan banten, tapi mengefisienkan. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun menilai bahwa kebiasaan membeli banten di Griya yang selama ini dianggap menjadi penyebab dari biaya tinggi upacara agama Hindu dapat diatasi dengan bergotong royong dalam prosesnya, sebagaimana yang ia lihat di Desa Puhu. “Membuat bebantenan dan sarana upakara secara gotong royong akan semakin mengakrabkan warga desa, disamping mengkader anak muda Bali agar paham tentang sarana bebantenan. Yang saya lihat di Desa Puhu ini sangat revolusioner. Dari semua bahan yang disediakan hampir sebagian besar disiapkan oleh krama adat baik tua muda, laki dan perempuan. Ini pertanda baik, agar agama Hindu bisa ajeg karena sudah bisa menghemat biaya. Saya harap seluruh desa adat di Bali bisa meniru teladan ini. “ungkap Gusti Wedakarna. Akhirnya iapun berpesan bahwa tingkat keutamaan dalam sebuah yadnya bukanlah dari besar kecilnya volume sarana upakara, tapi dari dari ketulusikhlasan warihnya. “Hindu akan bangkit kembali, Hindu akan semakin menekankan tattwa, Hindu akan bangkit ditangan prajuru adat yang revolusioner dan berani merubah tradisi. Ini pertanda baik. This is Satyagraha.  “ungkap Gusti Wedakarna. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *