Categories Satyagraha

PENGUSAHA KULINER SUKLA FOKUS PADA SEGMENTASI MAYORITAS WISATAWAN KRISTEN DAN BUDHA

Satyagraha – Senator RI, Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pemilik Warung Babi Guling Bu Jero di Gilimanuk Negara

WEDAKARNA KUNJUNGAN KE WARUNG BABI GULING GILIMANUK

Mendengar kata Gilimanuk seakan – akan pikiran kita terarah pada suatu tempat yang menghubungkan dua buah Pulau yaitu Pulau Jawa dan Pulau Bali. Bukan hanya itu, perkembangan nama penyebrangan gilimanuk – ketapang semakin vital adanya sebagai akibat dari bertambah banyaknya orang – orang luar Bali khususnya dari Jawa yang ingin menikmati dan menyaksikan keindahan Pulau Bali. Setelah sekian lama sempat diundang untuk datang ke warung sukla yang ada di Gilimanuk, akhirnya Senator Wedakarna berkesempatan untuk mengunjungi Warung Babi Guling Ibu Jero disela – sela Kunjungan Kerja ke Gilimanuk Negara. “ Saya salut sekali kepada Ibu Jero pemilik Warung Babi Guling di Gilimanuk. Ini satu – satunya warung Babi Guling yang ada dikawasan Gilimanuk. Tentunya pangsa pasarnya bukan hanya umat Hindu saja tapi wisatawan Kristen dan Budha serta orang asing. Kenapa harus khawatir dengan segmen penjualan daging babi. Apalagi mayoritas di Bali pemakan daging Babi. Hal unik lainnya Ibu Jero juga memiliki menantu bernama Ibu Esti asal Pesanggaran Banyuwangi yang dulunya seorang Muslim tapi saat ini sudah menjadi Suwi Wadani Hindu dan kini membantu keluarga berjualan Babi Guling. Semoga sukses usaha babi guling ini, semakin berkembang dan eksis “ ungkap Senator Gusti Wedakarna ( Penggagas dan Pembina Gerakan Sukla Satyagraha ). Sukla bermakna suci, artinya semua proses makanan harus menggunakan bahan yang diperlakukan suci, menggunakan perabot yang suci, dan juga harus menggunakan budaya hindu. Satu hal yang tidak bisa dilupakan bahwa sebelum makanan itu dijual, para pedagang Hindu disarankan untuk mempersembahkan makanan itu ke hadapan Tuhan ( Ngejot Saiban ) dan seluruh warung dan restoran diperciki tirta amerta. Dan babi guling adalah identitas orang Bali. Sebagian besar wisatawan yang datang ke Bali adalah pengkonsumsi Babi. Dan tentunya hal ini akan semakin bagus jika bisa membuka warung babi di tempat – tempat pariwisata. Ini akan sangat membantu peternak Babi di Bali, kaum Marhaen yang bergerak diusaha Kuliner Babi. Inilah satyagraha, harus sayang dengan semeton Bali sendiri dan yakin kalau orang Bali mengelola ajengan, pasti Suci, Bersih dan Sukla. Selain itu pihaknya akan mengkampanyekan gerakan makan Babi Guling dan terus menggalakkan acara Festival Babi Guling diseluruh Bali. “ Gerakan rakyat akan lebih hebat dari gerakan pemerintah sekalipun. Ngiring lestarikan ajengan sukla, makanan babi. “ Ungkap Gusti Wedakarna.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *