Categories Nasional

SIMBOL WANITA BALI YANG TEGAR TERHADAP TEKANAN POLITIK ORDE BARU

TOKOH – I Gusti Ayu Suwitry Wedastera Suyasa

HARI LAHIR  RATU BIANG I GUSTI AYU SUWITRY WEDASTERA SUYASA

Tidak pernah terbayang sebelumnya, sosok wanita sederhana asal Jero Bendesa Manik Mas Tamblang, Kubutambahan, Buleleng ini akan dipersunting oleh (Swargi) Shri Wedastera Suyasa salah satu tokoh politik Sukarnois PNI paling ternama di Bali. Hidup menjadi pendamping seorang suami yang bekerja dalam dunia politik ternyata ikut serta membentuk karakter IGA Suwitry, yakni menjadi wanita yang tangguh, salah satunya bagaimana ia harus mendampingi suami saat tekanan zaman Orde Baru sejak 1977 hingga 1998. “ Tiang ingat sekali bagaimana perjuangan Ratu Aji Shri Wedastera menghadapi tekanan orde baru. Tidak ada yang mudah bagi kami keluarga yang lahir dari Dinasti Politik PNI. Ratu Aji adalah tokoh politik yang sangat terkenal, dan beliau terkenal karena kebaikan dan kesederhanaan. Tapi tentu nama baik saja tidak cukup untuk hidup dizaman Orde Baru, perlu perjuangan dengan airmata dan darah. Sebagai bagian dari pendukung Bung Karno tentu kami dan keluarga serta puri mengalami tekanan luar biasa dibawah rezim orde baru. Tapi tiang percaya kuasa Hyang Widhi bahwa hukum karmaphala berjalan dan Indonesia akhirnya bisa reformasi ditahun 1998. Dan ini juga membahagiakan Ratu Aji Shri Wedastera Suyasa yang masih sempat melihat reformasi sebelum beliau tutup usia pada 16 Agustus 2000. Mulai saat itulah akhirnya ajaran – ajaran Bung Karno bangkit dibantu alam semesta “ungkap IGA Suwitry. Kini IGA Suwitry yang tepat pada hari ini berusia 60 tahun, memiliki cita – cita besar yakni bagaimana agar Bali tetap sejahtera tanpa melupakan adat dan akar budaya Hindu. “ Tugas saya sebagai seorang ibu, tentu harus melahirkan anak – anak yang saputra, anak – anak yang tidak hanya egois memikirkan hidupnya sendiri dan keluarga semata, tapi anak – anak yang memiliki tanggung jawab terhadap agama, bangsa dan Negara. Tugas ibu hanya berdoa agar Sang Hyang Widhi memberikan jalan pada keturunannya. Apalagi menyandang nama besar Shri Wedastera Suyasa, beliau sebagai tokoh PNI dan pendiri Parisadha Hindu Dharma sungguh bukan hal yang mudah untuk dijaga. Prinsip tiang kepada para putranda dan cucunda adalah agar sebelum mengurus rakyat agar bisa mengurus diri sendiri dan keluarga dulu dan kejujuran adalah hal yang paling mutlak dalam berjuang.”pungkas IGA Suwitry yang kini sudah memiliki 13 orang cucu ini. Adapun putra putri IGA Suwitry – Shri Wedastera Suyasa yakni Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III ( Senator DPD RI ), Dr. IGA Diah Werdhi Srikandi WS ( Anggota DPRD Bali Fraksi PDI Perjuangan ), IGA Sri Wichaya Gangga Dewi WS ( Notaris PPAT Badung ), IGA Dewi Wastu Manggala WS ( Yayasan Universitas Mahendradatta ), Shri I Gst Ngrh Wira Wedawitry WS ( Ketua DPD PNI Marhaenisme Bali / Sekretaris Umum KNPI Prov. Bali ) dan IGA Sita Wedastiti WS,SE ( Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Prov Bali Bidang Ekonomi / Managing Director 3 Museum Bung Karno di Bali ). ( Humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *