Categories BudayaHinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA SERAHKAN LEMPENGAN PURANA PURA TERATAI BANG DAN PURA BUKA

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III bersama Pengempon Pura Teratai Bang dan Pura Luhur Ulun Siwi Tabanan

CATATAN KARYA SUGENG WIYOSAN DI ISTANA MANCAWARNA TAMPAKSIRING

Ada yang istimewa dalam karya Sugeng Wiyosan Tinggalan Dalem Kaping 37 Di Istana Mancawarna Tampaksiring yakni adanya penyerahan prasasti lempengan tembaga untuk dua pura yaitu Pura Teratai Bang dan Pura Luhur Ulun Siwi Tabanan. Penyerahan prasasti dengan kompak diserahkan langsung oleh Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III dihadapan ratusan undangan yang hadir saat upacara sugeng wiyosan. Dalam sejarahnya Shri Gusti Wedakarna memang secara rutin mempunia purana lempengan tembaga kepada sejumlah pura – pura di Bali. Hal ini tentu menunjukkan kepercayaan yang sangat tinggi kepada pengempon pura dan warga masyarakat kepada sosok Shri Gusti Wedakarna. Sebagaimana disampaikan oleh Abhiseka Ratu usai seremonial penyerahan Lempengan. “ Tentu tiang hanya memfasilitasi agar purana pura berupa catatan – catatan nike dipindahkan menjadi plat tembaga, tiang tidak wewenang mengubah apapun isi dari purana. Kami bekerjasama dengan The Hindu Center of Indonesia dan juga seniman Bali. Niki sebuah kebahagiaan tiang dapat maturan purana lempengan ini dan semoga bisa dipasupati saat odalan. Jadikanlah purana ini sebagai pusaka mangde fungsi pura nike jangkep dan sempurna. Karena sebuah pura tanpa purana bagaikan sebuah negara tanpa UU. Semua demi masa depan pura dan generasi Hindu kedepan mangde sejarah kita tidak diombang – ambing. “ Ungkap Gusti Wedakarna. Iapun memberikan pesan kepada seluruh umat Hindu khususnya kepada para pengempon pura di seluruh Bali agar tetap mempertahankan sejarah budaya dan juga adat istiadat dengan koridor sederhana dan efisien. “ Akhir – akhir ini banyak pura di Bali ditelantarkan ditutup dan juga dipralina karena keterbatasan umatnya. Disatu sisi pemerintah di Bali belum mengayomi umat Hindu, anggaran hanya semata – mata membangun fisik dari pura kita. Tapi ada yang terlupakan yakni membangun mental dan militansi rakyat Bali agar mereka memahami tatwa weda ajaran Hindu serta dresta. Diluar itu, masih banyak pihak status quo di Bali, baik dari kalangan brahmana dan ksatria yang tidak suka rakyat menjadi cerdas, sehingga mereka menjual dalil – dalil agama seperti gugon tuwon dan mula keto sebagai jargon dalam mempertahankan bisnis bebantenan di Bali. Ini salah dan ini tidak benar. Dan kini tugas saya sebagai ksatria, sebagai warih dari ksatria dalem agar meluruskan hal ini. Cara yang paling ampuh adalah mencerdaskan umat Hindu melalui kaum muda. “ Ungkap Gusti Wedakarna. Iapun berpesan bahwa gerakan revolusi karakter umat Hindu harus terus digaungkan termasuk penyederhanaan upacara. “ Jika saya berbicara penyederhanaan upacara dan efisiensi eedan karya bukan berarti bebantenan harus dihilangkan, tapi diefisiensikan. Umat Hindu harus kuat ketahanan ekonominya, harus kuat LPD nya dan kuat finansial dan platformnya. Saya tidak ingin kemunduran kerajaan Majapahit 500 tahun yang lalu terulang, semua karena kelalaian leluhur kita. Dan sekarang kita diberi kesempatan hidup untuk memperbaiki kesalahan leluhur kita. Sekarang saatnya. “ Ungkap Gusti Wedakarna yang juga seorang Senator DPD RI Utusan Bali ini. ( Humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *