Categories Budaya

HIMBAU HEWAN KURBAN DARI CSR TIDAK MENGGUNAKAN HEWAN SAPI

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Disambut Jajaran Guru Dan Siswa – Siswi dari Madrasah Ibtidaiyah Al-Miftah Denpasar Saat Kunker di Denpasar 

GUSTI WEDAKARNA MINTA DESA ADAT JAGA KESUCIAN SAPI

Jelang peringatan Idul Adha yang akan dirayakan oleh umat Islam di Indonesia, tokoh Hindu Indonesia yakni Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III mengingatkan agar kehidupan toleransi di Bali dijaga sehingga tidak ada gesekan dimasyarakat yang dapat mencederai kehidupan  berbangsa dan bernegara. Dan komitmen untuk menjaga kesucian pulau Bali yang menjadi tempat damai bagi seluruh umat terus digelorakan oleh Ratu Ngurah Wedakarna, terutama kaitannya dalam pelaksanaan hari raya Idul Adha. “Mari kita sebagai bagian dari bangsa besar dengan beragam suku dan agama harus senantiasa melakukan komunikasi dengan baik. Seperti contohnya ada aspirasi dari umat Hindu di Bali terutama pada hari raya Idul Adha agar semeton Muslim ( Nyame Selam ) agar tidak menyembelih hewan sapi di Bali. Nah ini kita komunikasikan tempo hari ke berbagai komunitas adat, Hindu dn Islam disejumlah tempat di Bali bahwa ada harapan dari umat Hindu tentang makna toleransi dua arah. Respon cukup baik.  Sudah menjadi kepercayaan kuno bahwa di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini bahwa hewan sapi adalah hewan yang disucikan dan simbol dari kendaraan Siwa Mahadewa. Terkait hal ini, mewakili umat Hindu di Bali kita berikan solusi bijak yakni agar hewan sapi yang biasanya dijadikan kurban bisa diganti dengan hewan lainnya seperti kambing atau cukup dengan dana punia (zakat). Hal ini bisa menjadi simbol kebersatuan antara umat non-Hindu dengan Hindu.”ungkap Shri Gusti Wedakarna. Hal ini juga perlu selalu untuk dikomunikasikan mengingat isu SARA harus diselesaikan dengan perspektif bijaksana. “Kita tentu masih ingat dengan kasus Tolikara di Papua, dan Tanjung Balai Medan Sumatera Utara tentu Bali harus banyak belajar tentang hal itu. Penduduk pribumi dalam hal ini umat Hindu harus diedukasi untuk menyampaikan aspirasi dengan tanpa kekerasan ( ahimsa ), begitu juga kaum pendatang (tamiu non-Hindu) agar juga menghormati  prinsip dimana bumi di pijak, disana langit dijunjung. Dan jika sudah ada komunikasi yang baik saya yakin perdamaian dan kondusifitas bisa dijaga. Mudah – mudahan himbauan ini bisa dimaksimalkan.”ungkap Ngurah Wedakarna yang dikenal sebagai pendiri dari The Hindu Center Of Indonesia ini. Pendapat dari Ngurah Wedakarna ini juga direstui oleh pendeta Hindu, Ida Shri Bhagawan Nabe Wira Kerti dari Griya Sugana Buana Lebah Siung Panjianom Buleleng. “Dalam sastra, hewan Sapi adalah Ibu dari semua kehidupan. Kitab Suci Weda sangat mengangungkan sapi sebagai kendaraan Siwa Mahadewa. Jadi kewajiban setiap Ksatria di Bali untuk melindungi Sapi. Dalam Sastra disebutkan bahwa jikalau ada Sapi dibunuh disebuah negeri, maka negeri itu akan mendapatkan bencana yang tiada akhirnya. Intinya yang penting umat Hindu sudah memberikan himbauan ke publik dan itu sudah termasuk karma baik. Semoga Toleransi di Bali bisa terjaga dengan baik sebagai mana dilakukan Wali Songo Sunan Kudus di Jawa Tengah yang demi menghormati umat Hindu Majapahit, beliau memberi contoh agar di Kudus dan beberapa daerah di Jawa tidak menyembelih sapi, tapi diganti dengan hewan lain. Inilah Pancasila yang sesungguhnya. “ungkap Ida Sulinggih Bhagawan Nabe Wira Kerti.

 

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *