Categories HinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA MENDIDIK RAKYAT MENYUCIKAN HEWAN MELALUI KIRAB LEMBU

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Memimpin Upacara Kirab Lembu Putih Duwe Desa Adat Taro di Denpasar

FESTIVAL GANESHA CATURTHI DIIKUTI RIBUAN UMAT HINDU

Bali adalah pulau yang umatnya sebagian besar adalah penganut Hindu Siwaisme. Hal ini ditandai dengan betapa pentingnya ajaran – ajaran Siwa Mahadewa dalam keseharian umat Hindu di Bali. Cerita Lubdaka, penganut Siwa yang akhirnya menjadi cikal bakal hari Siwa Ratri di Bali. Begitu juga disejumlah pura di Bali terdapat arca Nandini ( Dewa Lebu / Sapi ) yang menandai penghormatan terhadap hewan sapi. Dan teladan sebagai umat Hindu yang baik diberikan oleh pejabat publik, Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna yang memberikan contoh saat mepunia kepada masyarakat Bali dengan menghadirkan 9 Ekor Lembu Putih milik ( duwe ) Desa Adat Taro Gianyar dalam acara Kirab Lembu Nandini di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung ( Puputan Badung ) pada ( 1/9 ) lalu. “ Saya akui bahwa sebagian besar umat Hindu di Bali sangat menyucikan lembu, sapi dan kerbau karena sapi adalah kendaraan Siwa Mahadewa, lambang dari keperkasaan Dewa Indra dan juga hewan kesayangan Sri Krisna. Jadi memuliakan sapi adalah kewajiban bagi setiap umat Hindu. Dan kewajiban bagi setiap pemimpin Hindu di Bali khususnya untuk membantu melindungi sapi dan bukan sebaliknya. Kita harus manut pada sastra Weda yang kita yakini sebagai pedoman umat Hindu dalam menjalankan sesananya. Bahkan para Ksatria yang dicontohkan Pandawa, memberi teladan atas kemuliaan sapi “ Ungkap Gusti Wedakarna. Dalam pidatonya di Puputan Badung, Gusti Wedakarna juga menyampaikan bahwa dalam ajaran Hindu disebutkan, bahwa jika ada seeekor sapi yang dibantai sebuah negeri, dan ketika darah sapi itu masuk ke tanah pertiwi dan lolongan tangisan sapi tersebut hingga Indraloka, maka seketika itu para Dewa akan menghujamkan bencana pada negeri itu. Ini yang menyebabkan Bali sangat memuliakan sapi. Kita perbaiki kesalahan leluhur kita dan itulah gunanya Jnana Yadnya, melahirkan generasi muda yang semakin cerdas “ Ungkap Gusti Wedakarna. Iapun memaklumi bahwa disejumlah ritual dan desa adat masih ada praktik penyembelihan sapi sebagai syarat ritual. “ Bagi saya agama itu memberi pedoman. Kita sepakati dulu bahwa Bali menjadi seperti saat ini, karena peran agama Hindu. Jika ada orang Bali masih memakan daging sapi, ada desa adat menyembelih sapi, ada Bupati yang menyerahkan sapi untuk disembelih, kita anggap saja Awidya ( Tidak ada pengetahuan ). Tugas cendikiawan menyadarkan dan selanjutnya jika ada yang tidak sadar maka jangan gunakan kekerasan ( ahimsa ), karena Hindu agama damai dari penyebarannya. Selanjutnya hukum karma akan berlaku seperti pemimpin yang pendek umur, kehancuran kepimpinan, bencana alam dan juga pastuning pastu saat umat Hindu membunuh sapi itu pasti ada, tinggal menunggu waktu. Yang penting sudah diingatkan dan mengingatkan. Ini juga yang terus saya sampaikan saat bertemu warga diseluruh Bali. Agama adalah tiang kehidupan dan ada sesana – sesana yang harus diikuti. “ Ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center of Indonesia. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *