Categories BudayaHinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA INGATKAN KB BALI 4 ANAK SAVE NYOMAN DAN KETUT

SATYAGRAHA – STAFF AHLI DPD RI B65 UTUSAN PROV. BALI (KEDUA DARI KIRI) FOTO BERSAMA KEDUA MEMPELAI I KADEK WISNU WIRAWAN, SST.PAR DENGAN AYU KETUT SIDIANTHARI, S.PAR DAN KEDUA ORANG TUANYA

HADIRI UPACARA MANUSA YADNYA PAWIWAHAN DI BR. DUKUH PULU KELOD KAB. TABANAN

Konsisten dalam menjalankan swadharmanya sebagai putera bali tetap ia lakukan hingga saat ini guna menjaga eksitensi umat Hindu Bali di Indonesia secara terus menerus dengan melakukan sosialisasi kepada seluruh komponen masyarakat yang ada di bali, baik kalangan tradisional maupun kalangan muda secara umum, salah satunya dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan konsepsi Hindu agar tidak luntur dengan realitas sosial di Bali saat ini. Senator DPD RI Utusan Provinsi Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradata Wedasteraputra Suyasa III yang diwakili oleh Staf Ahli DPD RI B-65 Utusan Provinsi Bali menghadiri undangan pawiwahan I Kadek Wisnu Wirawan, SST.Par dengan Ayu Ketut Sidianthari, S.Par di Banjar Dukuh Pulu Kelod Desa Mambang Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan karena berkenaan dengan Rapat di Senayan Jakarta membuat senator RI ini tidak dapat menghadiri undangan pernikahan tersebut, tetapi melalui Staff Ahlinya Ni Ketut Nesa Santini, SE, Raja D. Siregar, SH mewakili menghadiri undangan pernikahan tersebut dan guna juga mensosialisasikan pesan Dr. Arya Wedakarna yaitu “Lestarikan KB Bali 4 Anak” dengan tagline “Save Nyoman dan Ketut” yang disampaikan oleh Ni Ketut Nesa Santini, SE selaku Staff Ahli DPD RI B65 utusan Prov. Bali dan di ketahui bersama bahwa di Bali nama untuk anak pertama (Gede,Putu, Wayan), anak kedua (Kade, Made), anak ketiga (Komang, Nengah dan Wayan) dan terkhir anak keempat (Ketut), kalau KB negara 2 anak diterapkan, tradisi nama Nyoman dan Ketut bisa hilang. Seperti diketahui tujuan program tersebut untuk melestarikan umat Hindu Bali agar semakin berkembang dan yang paling penting adalah dalam pemahaman ajaran Hindu bahwa Sesuai konsep Catur Warna (empat tingkatan bidang profesi) dalam hindu di sebut denga Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra yang harus diteruskan agar tidak punah. KB empat anak wajib di laksanakan, orang Bali yang semakin berkurang karena dampak dari KB 2 anak di Bali, jangan pernah lupakan sejarah, orang Bali memiliki KB 4 anak, ada Nyoman dan Ketut. KB empat anak juga untuk mempertahankan eksistensi agama Hindu, berupaya untuk menegakkan ajaran Satya Graha atau penyederhanaan setiap upacara yang ada di Bali, jangan sampai ada upacara yang menghabiskan dana hingga ratusan juta sehingga memberatkan masyarakat. Selama ini program keluarga berencana 2 anak telah diterapkan dengan sangat berhasil di Bali sehingga dapat menekan pertumbuhan penduduk. Namun, ibaratkan koin dengan kedua belah sisi sebagaimana konsep Rwa Bhineda yang mana selain membawa dampak positif ternyata banyak pula membawa dampak negatifnya. Apalagi jika melihat jauh kedepan ternyata jauh lebih banyak membawa dampak negatifnya bagi masyarakat dan pelestarian budaya Bali. Kita kini bisa melihat semakin kosongnya pedesaan karena banyak anak muda yang merantau keluar Bali dan luar negeri.  Disatu sisi setiap keluarga Hindu di Bali memiliki tanggungjawab di Pura, Adat dan Agama. Dengan memiliki dua anak, sumber daya manusia Bali menjadi habis terkikis. Orang tua ngayah didesa sampai mengabaikan tanah pertaninan dan sumber penghasilan. Disatu sisi sang anak akan sangat kesulitan meninggalkan pekerjaan di Kota karena takut akan kehilangan pekerjaan dengan sistem profesional. Tantangan globalisasi yang semakin tinggi membuat masyarakat Bali semakin kesulitan dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Maka dari itu sangat diperlukan sosialisasi khusus dalam menerapkan keluarga berencana dengan 4 orang anak di Bali. Sehingga penduduk mengalami peningkatan secara kuantitas dan secara kualitaspun masih bisa diupayakan menekan pembiayaan dengan menghilangkan perilaku konsumtif luar biasa anak muda Bali Dengan memiliki 4 orang anak, semua swadharma bisa lebih mudah terlaksana, Desa Pakramanpun menjadi lebih cepat maju secara ekonomi tanpa mengikis nilai adat budayanya. Leluhur orang Bali seseungguhnya telah memiliki sebuah pandangan yang visioner tentang eksistensi Bali kedepan terutama bagaimana mengatur keturunan untuk dapat menjaga Bali dengan infrastruktur agama, budaya dan adatnya.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *