Categories BudayaHinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA APRESIASI SISTEM IURAN SAWE HANYA RP. 17.000 / KEPALA KELUARGA

SATYAGRAHA – Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Bersama Bendesa Dan Masyarakat Br. Semaon Ds. Puhu Kec. Payangan Kab. Gianyar 

HADIRI NGABEN MASSAL DI BANJAR SEMAON PAYANGAN GIANYAR

Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III mendapatkan kehormatan untuk menghadiri langsung acara Ngaben Massal Kinembulan yang digelar oleh semeton di Banjar Semaon Desa Puhu Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar. Disambut langsung oleh I Wayan Tempo ( Bendesa Adat ) dan masyarakat, Senator RI ini langsung berkeliling melihat lokasi acara. Menurut penjelasan panitia karya, “ Karya ini merupakan rangkaian dari acara Pitra Yadnya 2017 dan kini melanjutkan acara agar bisa dikatakan tuntas, dan upacara yadnya ini dilaksanakan dengan gotong royong masing – masing sawa dengan dikenakan iuran hanya Rp. 17.000 / Kepala keluarga yang diadakan setiap tiga tahun sekali. “ Ungkap I Wayan Tempo selaku Ketua Panitia Karya. Dalam kesempatan yang sama, Gusti Wedakarna memberikan apresiasi kepada panitia karya dan prajuru adat, yang telah dengan membantu rakyat dengan kebijakan yang membumi. “ Saya puji Prajuru Adat dan juga semeton warga Br. Semaon Desa Puhu Kecamatan Payangan, saya kira ini sistem ngaben massal termurah di Bali, astungkara umat Hindu Bali terbantu, warga tidak dibebankan iuran apapun lagi. Dimana – mana saya masih menyaksikan biaya Ngaben yang rata – rata masih diatas Rp 5 Juta bahkan ada yang diatas Rp 10 Juta. Tapi dengan melihat langsung di Desa bahwa kesederhanaan upacara dapat diwujudkan. Biaya murah dalam upacara ini sangat membantu ketahanan keluarga – keluarga Hindu di Bali. Apalagi di Gianyar selama ini dikenal banyak upacara yang mahal dan ribet, tapi Banjar Semaon Desa Puhu Payangan ini sudah bisa memberikan kemudahan bagi warganya. Atas nama pribadi dan lembaga Negara DPD RI, saya mengucapkan terimakasih atas semua usaha ini. Menyederhanakan bukan berarti menghilangkan banten, tapi mengefisienkan. “ ungkap Gusti Wedakarna. Biaya upacara yadnya apapun dapat diatasi dengan bergotong royong dalam prosesnya, sebagaimana yang dilihat di Desa Puhu. Membuat bebantenan dan sarana upakara secara gotong royong akan semakin mengakrabkan warga desa, disamping mengkader anak muda Bali agar paham tentang sarana bebantenan. “ Yang saya lihat di Desa Payangan ini sangat revolusioner. Dari semua bahan yang disediakan hampir sebagian besar disiapkan oleh krama adat baik tua muda, laki dan perempuan. Ini pertanda baik, agar agama Hindu bisa ajeg karena sudah bisa menghemat biaya. Saya harap seluruh desa adat di Bali bisa meniru teladan ini. Tingkat keutamaan dalam sebuah yadnya bukanlah dari besar kecilnya volume sarana upakara, tapi dari ketulusikhlasan warihnya. Hindu akan bangkit kembali, Hindu akan semakin menekankan tattwa, Hindu akan bangkit ditangan prajuru adat yang revolusioner dan berani merubah tradisi. Ini pertanda baik.  This is Satyagraha.“ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center of Indonesia.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *