Categories BudayaHinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA HIMBAU SELURUH MASYARAKAT BALI TERUS GELORAKAN PENYEDERHANAAN ADAT DEMI KEDAULATAN BALI

Satyagraha – Senator RI, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Warga Desa Perean Baturiti Tabanan Saat Menghadiri Upacara Ngaben Massal

HADIRI UPACARA NGABEN MASSAL DI DESA PEREAN BATURITI – TABANAN

Sikap komitmen dalam menjalankan swadharmanya sebagai putera Bali tetap ia lakukan hingga saat ini guna menjaga eksistensi umat Hindu di Indonesia dan keajegan Bali. Hal tersebut terus menerus ia lakukan secara konsisten dengan melakukan sosialisasi dan advokasi atas konsepsi Gerakan Satyagraha keseluruh komponen masyarakat Hindu yang ada di Bali, baik dengan kalangan tradisional maupun kalangan muda sehingga ajaran serta budaya Hindu tidak kian luntur dan terkikis dengan transformasi jaman saat ini. Hal itu terbukti saat Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III menghadiri undangan ngaben massal di Desa Adat Perean Baturiti Kab. Tabanan. Kedatangan Gusti Wedakarna disambut baik oleh seluruh komponen masyarakat yang turut hadir di acara tersebut. Didampingi I Nyoman Sunantara (Perbekel Desa Perean), I Ketut Korban (Bendesa Adat Perean) dan I Gusti Ngurah Wartana (Klian Dinas Perean), Gusti Wedakarna meninjau sejumlah sawa yang berada dilokasi acara. Pada kesempatan tersebut Bendesa Adat Perean menyampaikan bahwa di acara ngaben masal kali ini jumlah sawa yang ada berjumlah 46 Sawa dengan pembiayaan persawa senilai Rp 2.500.000 per sawa dan acara tersebut juga dibarengi dengan acara metatah massal. Menanggapi hal tersebut, Gusti Wedakarna menyampaikan apresiasi atas upacara ngaben massal yang dilakukan Desa Adat Perean Tabanan, menurutnya kegiatan sangat positif dan merupakan bentuk satu penyederhanaan upacara yang harusnya dicontoh oleh semeton yang lain. Tentu dengan adanya penyederhanaan yang dilakukan seperti ini, secara otomatis dapat meringankan pembiayaan pengabenan bagi para semeton yang ada di Desa Adat Perean Tabanan serta lebih meningkatkan hubungan persaudaraan sesama semeton Hindu Bali.” Ungkapnya. Selain itu, saat ini saya tengah mensosialisasikan hal yang sama keseluruh Umat Hindu Bali dalam hal penyederhanaan melalui konsep satyagraha, bayangkan saja, ketika kemewahan dalam upacara dilakukan dengan anggaran yang cukup fantastis tentunya memberatkan dan meyulitkan semeton kita yang lain sehingga daripada kegiatan itu dibangun dengan hal yang terlalu mewah lebih baik dipergunakan untuk tabungan abadi disetiap desa yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk mendongkrak sektor perekonomian masyarakat desa adat kita khususnya ,mendukung anak-anak muda kita di Bali. Lebih lanjut, melihat kondisi Bali yang sedemikian padat dengan perbandingan jumlah penduduk pendatang yang mulai berimbang tentu mengakibatkan indikasi perambahan dan alih fungsi lahan semakin intens di Bali khususnya Tabanan sendiri, sehingga mau tidak mau sejumlah asset lahan yang dimiliki masyarakat lokal di Bali hilang dan tentu generasi bali kedepan berpeluang tidak akan mendapatkan tempat di Bali. Ia menjelaskan “ Bahwa saat ini pemerintah pusat tengah melakukan program revitalisasi infrastruktur  besar-besaran di Indonesia, dan Bali saat ini tengah menjadi salah satu project Rencana Kerja Strategis pemerintah pusat dalam program revitalisasi tersebut dengan dibangunnya short cut dalam beberapa waktu kedepan, sehingga saya meminta agar seluruh semeton agar jangan mudah menjual tanah. Dirinya mengingatkan kepada bendesa adat bersama masyarakat adat mulai memproteksi lahan-lahan yang ada di Perean dengan perarem adat sehingga tidak mudah melakukan jual beli lahan dan lebih mengutamakan program-program pengembangan ekonomi strategis bagi masyarakat desa adat  serta memperkuat sistem keuangan desa sehingga nantinya dapat bertujuan secara relevan bagi generasi muda dan masyarakat yang ada didesa Perean sendiri.”  Ungkap Dr. Arya Wedakarna yang juga merupakan President The Sukarno Center Tampaksiring, Bali. Sebelum beranjak dari lokasi acara tak lupa, ia juga berpesan “ agar masyarakat mulai melestarikan KB Bali dengan 4 orang anak sebagai sasana  orang bali yang memiliki 4 orang anak sesuai dengan konsep catur warna (Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra) dalam umat Hindu  sebagai cikal bakal generasi Bali yang nantinya mempertahankan eksistensi umat Hindu di Bali ”

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *