Categories NasionalSatyagraha

ARYA WEDAKARNA BAHAGIA MAKANAN BALI SUDAH MENGHIASAI DAFTAR MENU DI INDONESIA

SATYAGRAHA – Senator Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Generasi Muda Hindu Klungkung Di Festival Holy Fish 2017 Di Lapangan Kota Klungkung

SENATOR RI HADIRI FESTIVAL HOLY FISH KE – 3 DI KLUNGKUNG

Setelah dua tahun berturut – turut mengadakan acara Festival Ikan Mujair Nyat Nyat di Kintamani Bangli, kini Gerakan Sukla Satyagraha ( GSS ) mengadakan acara bertajuk Festival Holy Fish ( Ikan Suci ) diluar Kintamani yakni di Kota Semarapura Klungkung. Acara festival ikan mujair nyat – nyat ini sengaja dibranding sebagai “ ulam suci “ atau ikan suci yang berasal dari Danau Batur Kintamani. Dalam acara yang diserbu oleh ribuan masyarakat Klungkung sejak pagi hingga sore hari itu, dibuka sejumlah stand aneka hidangan kuliner Ikan Mujair Nyat Nyat baik yang digoreng, dikukus, dipanggang dengan berbagai varian olahan yang cukup mengundang selera. Apresiasi atas konsistensi program dan festival Holy Fish ini diapresiasi oleh Senator DPD RI asal Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III yang juga sebagai Pembina Gerakan Satyagraha Sukla. “ Menurut sebuah penelitian yang saya baca bahwa Bali adalah satu – satunya pulau di Indonesia yang memiliki keragaman ( diversity ) dari jenis makanan dan minuman terbanyak di Indonesia. Makanan Bali kini sudah bisa sejajar dengan makanan dari wilayah Nusantara lainnya. Kini branding Ikan Betutu, Sambel Matah, Sate Lilit, Bebek Goreng, Ikan Bakar Jimbaran bahkan Babi Guling sudah menasional. Sejak 10 tahun terakhir ini fenomena makanan Bali sudah mulai masuk ke menu – menu makan di restoran dan hotel – hotel diseluruh Indonesia. Ini bagus sekali dan ini tentu berkat kerja keras dari para Chef, sekolah Pariwisata di Bali, para ahli kuliner termasuk pengusaha Hindu Bali yang terus tanpa lelah memperjuangkan branding kuliner Bali. Ini juga termasuk ambisi saya dan kawan – kawan di GSS agar kuliner Bali menasional dan mendunia. Dan kini perjuangan berikutnya mempopulerkan Ikan Nyat – Nyat khususnya asal Danau Batur. “ ungkap Gusti Wedakarna. Iapun berpesan agar umat Hindu di Bali lebih memprioritaskan olahan makanan yang diproduksi oleh semeton Bali, sehingga tingkat kebersihan dan higienitasnya baik. “ Ngiring mulat sarira, bahwa leluhur kita mengajarkan orang Bali untuk ngajeng makanan yang diproses secara suci ( sukla ). Baik dari proses penyiapan bahan makanan hingga saat dihidangkan sampai ibu – ibu kita ngejot saiban. Apa yang ada disekitar kita yang tampak bersih, belum tentu suci. Akibatnya, kini banyak generasi di Bali yang terkena penyakit macam – macam padahal usianya masih muda. Ini artinya ada gaya hidup yang perlu diperbaiki. Seperti tiang sendiri, sudah sejak dini tiang hanya ngajeng diwarung semeton Bali, warung Sukla, dan warung isi Plangkiran. Selain membantu dan sayang pada semeton Bali, tiang sangat yakin, jika orang Bali yang memasak makanan pasti akan bersih dan suci. Nike yang sangat penting sekali. “ ungkap Gusti Wedakarna. Kedepan iapun berharap bahwa Gerakan Sukla Satyagraha ini akan terus menjadi sebuah gerakan moral bagi umat Hindu agar bisa bertanah ditanahnya sendiri. “ Jika Bali ingin eksis agama dan budayanya, maka Bali harus kuat ekonominya. Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit itu hancur kan karena para Raja jaman itu tidak memikirkan ekonomi. Ngiring kita ingat kata Bung Karno, JAS MERAH yakni Jangan Sesekali Meninggalkan Sejarah. Dan astungkara ekonomi Bali sekarang sudah mulai bergerak, anak – anak muda kini sudah banyak yang ngajeng ajengan sukla dan juga banyak orang tua yang mulai menata keluarganya untuk biasa mengkonsumsi ajengan suci. Kita terus gelorakan lewat program sosialisasi, pelatihan dan lain sebagainya. “ ungkap Gusti Wedakarna yang juga anggota Komite III DPD RI Bidang Agama, Budaya, Ekonomi Kreatif. ( Humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *