Categories BudayaHindu

DESA ADAT DAPAT MENGIRIMKAN HIMBAUAN TERKAIT PEMASANGAN PENJOR BAGI PENGUSAHA

Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Hadir di Desa Pekraman Gali Ukir Pupuan Tabanan Disambut Para Prajuru Adat

WEDAKARNA TRADISIKAN SUMBANG BABI GULING SAAT GALUNGAN

Sejak tahun 2015, tokoh muda Hindu Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III yang juga anggota DPD RI Utusan Provinsi Bali, memulai tradisi baru dikalangan pejabat yang menyumbangkan korban babi atau Babi Guling kepada umat Hindu yang membutuhkan. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah program acara yang digagas oleh Gusti Wedakarna diantaranya menyerahkan Babi Guling disejumlah Lembaga Permasyarakatan (LP) disejumlah daerah, membagikan babi guling dikalangan masyarakat miskin dan juga mengadakan Festival Babi Guling. Dan kini tradisi inipun terus digelorakan oleh Gusti Wedakarna khususnya menjelang hari raya Galungan dan Kuningan. Dan himbauan kepada pengusaha di Bali baik pengusaha pribumi, pendatang dauh tukad dan para ekspatriat agar memasang ornamen hari raya Galungan disampaikan disampaikan oleh Senator Gusti Wedakarna disela – sela memantau pelaksanaan Galungan. “Saya menghimbau kepada siapapun warga yang ada di Bali, agar memasang penjor didepan tempat usaha masing – masing. Ini wujud penghormatan pada alam Bali. Galungan bukan sekedar implementasi dari ajaran agama Hindu Bali, tapi juga ujian untuk nilai toleransi yang sesungguhnya. Ibaratnya jika benar benar peduli dengan alam Bali, maka pengusaha seharusnya tidak keberatan memasang penjor. ”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun menilai bahwa tiap desa adat sebenarnya berhak untuk memberikan edaran, teguran bahkan sanksi kepada siapapun para pendatang yang tidak menghormati dresta adat di Bali. “ Di Perda Desa Pekraman sudah jelas tersirat bahwa Bali ini memiliki kekhususan desa adat yang dijiwai oleh nilai agama Hindu. Begitu juga di UU  tentang Desa 6 Tahun 2014 sudah jelas bahwa negara memberikan perlindungan pada adat istiadat di Desa. Belum lagi ada ketentuan CSR di sejumlah UU termasuk UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas ( PT ). Jadi tanggung jawab lingkungan dan sosial adalah tanggung jawab para pengusaha. Baik itu di Aceh, di Jogja, di Papua atau di Bali saya rasa semua pendatang harus ikut melestarikan kebudayaan masing – masing. Secara moral, dengan adanya himbauan memasang penjor ini dan juga penyaluran CSR, bahwa membuktikan bahwa perusahaan tersebut baik itu pabrik, hotel, toko, restoran, bank dan lain sebagainya memang benar – benar merekrut orang lokal. Jangan sampai memiliki usaha di Bali, tapi pengusaha mengabaikan tenaga kerja lokal. Itu tidak manusiawi.”ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia. Kedepan iapun meminta kepada warga adat Bali untuk senantiasa menjaga palemahan di Bali sebagai wujud kewibawaan desa adat di Bali. “ Kita harus menyadari bahwa desa adat di Bali memiliki kekuatan dan keunikan yang berbeda dari tempat lainnya di Indonesia. Bali tanpa budaya Hindu maka tidak ada artinya. 7 Juta turis datang, para investor datang ke Bali karena mereka ingin melihat kebudayaan Bali. Maka dari itu mari peduli dengan budaya Bali dan itu harus dimulai dari keberanian tokoh desa adat, sekaa teruna dan Jagabaya di Bali untuk berdebat, beragumentasi dengan landasan hukum yang kuat. Kedaulatan Bali ada diujung lidah krama adatnya. Ngiring jadikan Galungan sebagai momentum yang baik untuk menjaga Palemahan dan memberi wawasan pada tamiu dan dauh tukad terhadap budaya Bali. “ ungkap Gusti Wedakarna yang merupakan putra dari salah satu pendiri PHDI, (Swargi) Shri Wedastera Suyasa ini. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *