Categories InternasionalNasional

ARYA WEDAKARNA INGATKAN ANAK MUDA AKAN PERAN “ LOCAL BOY “ PADA BOM BALI I

Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Cok Ace
( Ketua PHRI Bali ) dan Jero Gede Putus Upadesa Suwena (Bendesa Agung MUDP ) Saat Acara Doa Perdamaian di Bajra Shandi 

REFLEKSI 15 TAHUN TRAGEDI TRAGEDI KEMANUSIAAN DI KUTA

Banyak generasi muda yang lahir setelah tahun 1990-an yang kini banyak tersebar menjadi angkatan kerja dan intelektual Bali belum begitu mendalam mengetahui sejarah akan Tragedi Bom Bali I yang terjadi 12 Oktober 2002 di Kuta Bali. Kejadian Bom Bali yang dilakukan oleh Teroris Amrozy, Imam Samudra dan komplotan oknum anti Pancasilais ini benar – benar memukul perekonomian Bali saat itu. Belum sembuh dari luka Bom Bali I tahun 2002, Bali kembali disusul dengan kejadian Bom Bali II tahun 2005 di Jimbaran. Sejarah kelam Bali diawal reformasi ini tentu harus diingatkan terus kepada anak muda Bali khususnya umat Hindu, dengan tujuan agar seluruh komponen rakyat Bali agar mulat sarira ( instrospeksi diri ). Demikian ungkap Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III disela – sela rangkaian kegiatan DPD RI di Badung. “ Anak muda Bali harus tahu, apa sebab Bali di Bom ? Ada alasan perbedaan ideologi didalamnya dan ada kelompok teroris invansi AS pasca kejadian 9/11 di New York. Bali sebenarnya menjadi korban dari panggung perang terorisme global. Selain itu orang Bali jangan pernah lupa, bahwa meledaknya Bom Bali I itu ada akibat ada peran orang – orang lokal ( dauh tukad ). Dalam istilah hukum dikenal dengan nama “ local boy “, kita bisa lihat kronologi bagaimana Amrozy dan Imam Samudra bisa beroperasi di Bali dalam rentang waktu yang cukup lama sebelum hari H. Ini yang kedepan perlu diwaspadai oleh siapapun warga Bali, bahwa Bali pernah menjadi kebiadaban teroris yang mengatasnamakan agama tertentu. Ngiring krama Hindu Bali bersatu baik secara sekala dan niskala. Secara sekala mari perbaiki sistem kedamaian baik Polri, Pecalang dan Jagabaya dan secara niskala mari kita jaga kesucian pulau Bali dengan Tri Kaya Parisudha. “ ungkap Gusti Wedakarna. Iapun mengingatkan peran pemerintah agar tetap memperhatikan keluarga korban Bom Bali, yayasan yayasan terkait termasuk juga pendirian Bali Peace Park di bekas kejadian Bom Bali. “ Saat ini saya merasa ada beberapa pihak yang mencoba mengaburkan sejarah, ada pihak yang mencoba mengecilkan arti peringatan Bom Bali tiap 12 Oktober, dan ini tugas kita bersama untuk tetap menyuarakan kebenaran. Saya tetap mendukung agar cita – cita keluarga Bom Bali khususnya permintaan negara Sahabat Australia agar ada Monumen Bali Perdamaian di Kuta harus terealisasi, disini peran Pemkab Badung sangat krusial sekali. Begitu pula, acara peringatan Bom Bali I harus tetap diadakan agar orang Bali bangkit lan metangi. Nanti tiang dan kawan – kawan parlemen akan mengawal produk konstitusi yang sedang kita godok di Parlemen. Di DPD RI, saya selaku anggota Senator tetap mendukung Revisi UU Terorisme yang akan disahkan segera, termasuk adanya pasal ganti rugi oleh oknum teroris yang melakukan aksinya selain keterlibatan TNI dalam pemberantasan terorisme termasuk tidak adanya remisi bagi terpidana terorisme. Selain itu, secara politik Bali harus mendukung penuh Perppu Ormas No. 2 / 2017 tentang pembubaran Hizbut Tahrir ( HTI ) dan rencana pemerintah membubarkan sejumlah ormas radikal. Kita harus dukung upaya Presiden Joko Widodo dalam hal ini Presiden, Panglima TNI, Kapolri harus bersatu padu dan kuat dalam menjaga Pancasila. Bali akan tetap menjadi bagian terpenting dibanding provinsi lainnya dalam hal pemberantasan terorisme, karena Bali memiliki kepentingan. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *