Categories BudayaHindu

APRESIASI MEDIASI, WEDAKARNA MINTA WALIKOTA SEGERA ANGGARKAN PELINGGIH DI SD 4 DAUH PURI

SIDAK  –Senator RI, Dr. Arya Wedakarna Meninjau Lokasi Padmasana Didampingi Kepala Sekolah dan Pengawas Pendidikan Kota di Wanasari Kampung Jawa

SENATOR RI  SIDAK LOKASI PELINGGIH YANG SEMPAT DITOLAK WARGA

Menanggapi adanya penolakan sejumlah oknum yang mengatasnamakan agama tertentu terkait pembangunan Pelinggih Padmasana dan Pelinggih Pengijeng Karang di SD 4 Dauh Puri Denpasar, akhirnya menjadi perhatian dari Senator DPD RI asal Bali Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. Dalam kunjungan mendadaknya serangkaian reses DPD RI  di SD 4 Dauh Puri yang terletak didaerah Wanasari ( Kampung Jawa ) ini, Senator DPD RI bertemu langsung dengan Bapak Subiakta ( Dewan Pengawas ) dan Ibu Ni Kompiang Sumadi, A.Ma.Pd ( Kepala Sekolah ) serta sebagian guru – guru beragama Hindu. Selain untuk meninjau bakal lokasi pembangunan pelinggih tersebut, Senator Arya Wedakarna  (AWK ) juga meminta keterangan resmi dari pihak sekolah terkait dengan kronologis penolakan pura tersebut dan puji astungkara bahwa permasalah tersebut sudah tuntas karena telah dimediasi sebelumnya oleh Pemerintah Kota Denpasar, anggota DPRD Denpasar, Dinas Pendidikan, Tokoh Hindu dan Tokoh Islam. Harapan agar masalah tersebut tidak melebar, disampaikan oleh Senator AWK. “Saya datang untuk memastikan fakta dilapangan terkait dengan adanya isu dimedia sosial bahwa ada penolakan pembangunan pelinggih di SD 4 Dauh Puri. Dan saya berharap tidak ada isu SARA. Memang sangat disayangkan adanya oknum oknum yang tidak berpikir jauh tentang kehidupan beragama di Bali. Bagaimana mungkin, membangun pelinggih di Bali ditentang dan ditolak ? Apalagi tempat dibangunnya pelinggih ini ada di institusi negeri, memakai anggaran APBD dan juga untuk mengakomodir para guru agama Hindu dan kedepannya tentu siswa Hindu. Jadi selaku wakil rakyat, saya minta agar masalah seperti penolakan Padmasana dan Pengijeng Karang ini menjadi perhatian semua pihak, khususnya krama Bali agar mulat sarira. Disatu sisi kehidupan beragama mutlak harus menjalankan toleransi dua arah. “ungkap Gusti Wedakarna. Ia juga menegaskan bahwa Bali sangat tidak mentoleransi adanya sikap sikap radikalisme yang kini disinyalir ada disejumlah titik di Bali, dan meinta kepada semua pihak untuk bahu membahu memberikan edukasi kepada umat tentang pentingnya komunikasi dan toleransi dua arah. “Kejadian ini seharusnya menjadi cambuk bagi para penggiat toleransi untuk menjadikan kasus ini sebagai studi kasus. Saya juga minta FKUB untuk dapat membahas hal ini diforum resmi, kenapa saat ini banyak masalah penolakan pura di tanah Bali sendiri. Tempo hari terjadi juga penolakan pelinggih di Loloan Jembrana. Sekarang terjadi di Denpasar. Mari kita sinergi untuk menyelesaikan masalah SARA  ini agar Bali tetap Shanti. “ungkap Gusti Wedakarna yang anggota Komite III DPD RI Bidang Agama dan Budaya ini.  Maka dari itu, pihaknya mengucapkan terimakasih atas usaha dari Pemkot dan DPRD Denpasar serta pejabat wilayah untuk meredam aksi ini. “Saya sudah berkomunikasi dengan Bapak Jaya Negara
( Wakil Walikota Denpasar ) sejak pertama menerima info ini dan sudah direspon dengan baik. Tidak sampai 24 jam masalah ini tuntas. Selanjutnya saya minta Pemkot Denpasar segera menganggarkan biaya pembangunan pelinggih ini secepatnya di anggara perubahan 2017. Mungkin Desember sudah selesai dibangun dan bisa dipelaspas. Tadi sudah disampaikan juga oleh pengawas. Saya kawal ini agar tuntas. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun mengucapkan terimakasih atas keberanian dan usaha dari para Guru Agama Hindu yang sudah bergotong royong membangun dasar pelinggih ini. “Tadi Ibu Kepsek bercerita bahwa para guru saweran untuk membangun dasar Padmasana hingga jutaan rupiah. Padahal banyak guru disini yang masih  honorium. Saya anggap para guru ini adalah pahlawan Denpasar yang sesungguhnya. Semoga hal ini tidak lagi terjadi di Pulau Seribu Pura. Tidak elok ada masyarakat yang menolak pembangunan Pura dan Pelinggih. Ayo jaga Pancasila. “ungkap Gusti Wedakarna. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *