Categories BudayaHindu

WEDAKARNA DORONG TIAP DESA DI BALI MILIKI USAHA BABI GULING

Staf Utusan DPD RI B.65 Senator Gusti Wedakarna Bagikan Babi Guling Ke Sejumlah LP Di Bali ( Inzet : Senator Wedakarna ) 

TRADISIKAN PEMBAGIAN BABI GULING SAAT GALUNGAN KUNINGAN

Sosok muda Bali yang juga Senator DPD RI yakni Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III mulai membangun tradisi baru yakni dengan mepunia membagikan babi guling kesejumlah penjara atau Lembaga Permasyarakatan ( LP ) di Bali.Tradisi membagikan babi guling kepada saudara Hindu yang tidak mampu dan kurang beruntung, selalu menjadi program prioritas dari Arya Wedakarna (AWK). Hal ini semakin menyempurnakan program Ekonomi Satyagraha dan Gerakan Sukla yang ia gagas untuk melindungi para petani dan peternak di Bali. Sejumlah program pun ia gagas diantaranya Festival Babi Guling yang ia gagas pertama kali di Bedugul Candi  Kuning, juga Festival Sukla di Denpasar, selain pembagian daging babi dan babi guling setiap Galungan Kuningan. Kedepan iapun memiliki sebuah ambisi nyata yakni memberdayakan pengusaha Hindu untuk membangun usaha UKM Warung Babi Guling disetiap desa bahkan banjar di Bali. “Gerakan Sukla dengan menjadikan Babi Guling sebagai ikon adalah sebuah usaha moral untuk menghadapi diskriminasi UU yang tidak pro minoritas. Akan banyak rakyat, para pedagang, peternak dan petani Babi akan mendapatkan dampak. Maka dari itu saya galakkan Ekonomi Satyagraha, agar Bali cerdas mensiasati produk yang dalam Hindu disebut Sukla. Sukla yang dimaksud disini adalah proses mengolah makanan yang suci menurut agama  Hindu. Gerakan ini diresmikan oleh Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa ( Dharma Adyaksa PHDI Pusat ) di Prambanan pada Juli 2015. Kita dukung.”ungkap AWK. “Daging Babi dengan olahan kulinernya bisa menjadi sebuah alternatif ekonomi kerakyatan. Sejak gerakan ini dimulai pada 2014, kini bisa dilihat bagaimana Bali marak dengan pedagang Babi Guling, Babi Genyol dan Usaha Anak Muda diolahan Babi. Jangan sampai Bali hanya dikenal sebagai eksportir sapi dengan varietas sapi unggul, tapi Bali juga harus dikenal sebagai sebagai pulau Babi, pulau yang memiliki olahan rakyat dan makanan tradisional Babi Guling. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi saya percaya sebagian besar wisatawan asing yang mencapai 8 juta adalah kalangan dari Budha, Kristen dan negara non-Muslim. Jadi kenapa takut kita bersaing dengan negara lain. Saya dukung kaum marhaen khususnya pedagang kuliner Babi untuk semakin berdaulat. Jangan khawatir, 90 % warga Bali adalah Hindu dan ini presentase dan segmentasi yang luas sekali. Mari biasakan ajeng, ajengan Sukla.”ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia ini.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *