Categories BudayaHindu

WEDAKARNA TAMPILKAN TARI BEDOYO SEGORO KIDUL DAN JAMASAN TONGKAT PUSAKA TRI BHUWANA

MAJAPAHIT – Shri Gusti Wedakarna bersama Ida Bhagawan Dalem Nabe Wira Kerti, Enong Ismail (Kurator The Sukarno Center ) dan Desak Karna ( Putri Angkat Bung Karno ) Saat Jamasan Pusaka

PERINGATAN HARI LAHIR KERAJAAN MAJAPAHIT KE – 724 DI PURA DURGA KUTRI

Setiap 10 November Nusantara memperingati hari lahirnya Kerajaan Hindu Majapahit yang lahir pada tahun 1293. Kerajaan Hindu ini didirikan oleh Raden Wijaya dan akhirnya menjadi tumbuh berkembang sampai mempengaruhi budaya bangsa Indonesia hingga kini 11 November juga diperingati sebagai hari Sakral dengan dinobatkannya Ratu Tri Bhuwana Tungga Dewi ( Ibunda Raja Hayam Wuruk ) yang akhirnya melahirkan sejarah Majapahit bersama Mahapatih Gajah Mada, termasuk dimasa keemasan Majapahit hingga ekspedisi menaklukan Bali. Dan di Bali, satu satunya putra daerah yang setiap tahun menyelenggarakan dan konsisten memperingati hari leluhur ini adalah sosok Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. Hal ini terekam dalam perayaan hari peringatan Hari Lahir Kerajaan Majapahit Ke – 724 yang dihelat di Pura Durga Kutri Bukit Dharma, Buruan, Gianyar. Dihadapan ratusan undangan yang hadir dari seluruh Bali.  Shri Gusti Wedakarna juga melaksanakan ritual Jamasan Pusaka Tongkat Komando Ratu Tri Bhuwana Tungga Dewi didampingi oleh Kurator The Sukarno Center dan Putri angkat Bung Karno, sedangkan persembahyangan dipimpin langsung oleh Ida Shri Bhagawan Dalem Nabe Wira Kerti dari Griya Tegeh Kori Lebah Siung Singaraja, tampak hadir pula I Wayan Jempong Arimbawan ( Bendesa Adat Kutri )  dan I Gusti Putu Gede ( Bendesa Adat Buruan ). Uniknya sebelum upacara dilaksanakan ditarikan sejumlah tarian sakral yakni  tari rejang dewa dan Tari Bedoyo Segoro Kidul. Demikian ungkap Ni Kadek Mariani  disela sela ritual Jamasan Pusaka. “Tarian Bedoyo Segoro Kidul merupakan karya seni yang digagas Ratu Gusti Wedakarna. Tarian ini hanya ditarikan selama 3 kali setahun yakni tanggal 23 Agustus ( Hari Sugeng Wiyosan), 11 November (Hari Kelahiran Majapahit) dan 31 Desember ( Hari Ngadeg Ratu Sri Wilantikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX ) di Istana Mancawarna Tampaksiring. Dan setiap 11 November khusus dipersembahkan kepada leluhur Ratu Dewi Pantai Selatan ( Putri Hindu Padjajaran) dan kehadapan Leluhur  Ratu Mahendradatta Gunapriya Dharma Patni ( Permaisuri Raja Udayana ). “ungkap Ni Kadek Mariani. Apresiasi atas kegiatan tersebut disampaikan oleh Enong Ismail ( Ketua Kurator The Sukarno Center Tampaksiring ) yang menyatakan bahwa sudah sepatutnya bangsa Indonesia ini menghargai leluhurnya. “Bung Karno pernah berkata pada Nehru pada saat Perdana Menteri India itu datang ke Bali. Bung Karno mengatakan bahwa jika ingin melihat Majapahit maka lihatlah Bali sebagai Majapahit yang tersisa. Jadi ketika ada yang mengatakan bahwa Majapahit Sirno Ilang Kertaning Bumi, maka itu tidak benar. Karena selama 500 tahun sejak dipukul mundur oleh gerakan gurun di tanah Jawa, maka tradisi Majapahit ini dilanjutkan oleh para warihnya. Dan bersyukurlah Bali memiliki sosok Gusti Wedakarna yang setiap tahun konsisten menyelenggarakan acara besar ini. Belum pernah ada pemimpin Bali yang begitu paham dan mengerti tentang sejarah bangsa seperti beliau. Semoga diberikan kemuliaan atas segala usaha untuk membuat leluhur bahagia “ungkap Enong Ismail yang juga keponakan Wapres Ke 6 RI Try Sutrisno ini ( humas).

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *