Categories Satyagraha

ORGANISASI PARIWISATA SEPATUTNYA TIDAK MENUNJUKKAN KEBERPIHAKAN POLITIK

SATYAGRAHA – Senator RI Arya Wedakarna saat membuka acara ASPPI didampingi Nyoman Sudiadnyana ( Ketua DPD ASPPI Bali ) dan Djohari Somad ( Ketua Umum ASPPI ) di  Kuta 

WEDAKARNA DITABLE TOP ASOSIASI PELAKU PARIWISATA INDONESIA

Memprihatinkan ! Demikian pendapat anggota DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III ketika ditanya tentang bagaimana kondisi pariwisata di Bali saat ini. Alasannya, karena para pelaku pariwisata di Bali seakan berjuang sendiri tanpa adanya kehadiran negara dan kehadiran pemerintah dalam menjalankan kesehariannya. Perhatian pemerintah terkait dengan regulasi, anggaran dan juga infrastruktur tidak memenuhi harapan. Disatu sisi ia melihat bahwa pariwisata di Bali tidak memiliki blue print akan pengembangan pariwisata dimasa kini dan masa depan, sehingga munculah berbagai permasalahan pariwisata saat ini. “ Pariwisata di Bali ini sedang dalam tahap sandyakalaning, dan kedepan jika tidak diperbaiki dengan dukungan pemerintah, maka kedepannya pariwisata Bali akan ditinggalkan oleh operator dan turisme. Masalah demi masalah Bali  muncul setiap tahun, tanpa ada penyelesaian yang konkrit, ini juga akibat ego sektoral dari pemimpin Bali di tingkat Kabupaten dan Kota yang merasa dirinya menjadi raja raja kecil didaerah yang jarang mau bersinergi antar wilayah. Ini tidak akan pernah selesai jika pemimpin di Bali  tidak memiliki lompatan ide untuk menyempurnakan pariwisata. Pariwisata itu sistem, dan sistem itu yang tidak kita miliki dan rasakan saat ini. Yang ada jalannya pariwisata di Bali seakan dilakukan secara sporadis alias sendiri sendiri. Program pemerintah, dengan program organisasi pariwisata kadang tidak nyambung apalagi jika dihadapkan dengan kepentingan private investment.  Belum lagi sektor swasta memiliki visi berbeda beda, swasta lokal, swasta nasional dan swasta internasional juga punya pandangan berbeda dengan target berbeda beda dan kadang hanya menjadikan Bali sebagai sapi perahan. Tidak ada yang namanya Bali Incoorporated. Itu yang  tiang sesalkan. Jelas ini semua masalah pemerintah karena regulatornya disana. Bukan salah rakyat. ”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun mendapati bahwa  sejumlah masalah pariwisata Bali yang digantung tanpa penyelesaian konkrit yang mengemuka akhir akhir ini, semisal tentang kemacetan, masalah energi, tantangan pengelolaan  sampah, ketidakadilan komposisi tenaga kerja lokal dan asing, moratorium hotel, inkonsistensi tata ruang, serta persaingan transportasi konvensional dengan transportasi online dan lainnya. “Di Bali ini banyak orang mengaku ahli pariwisata dan merasa paling pintar berbicara tentang pariwisata, tapi mereka yang menjadi pemimpin perhimpunan, asosiasi dan organisasi tidak mampu maksimal memberi kontribusi pemikiran secara konkrit. Lainnya, banyak diantara pemimpin organisasi pariwisata yang hanya mendekat pada figur politik hanya untuk pendekatan bagian dana hibah organisasi dari APBD. Keahliannya hanya rajin mengikuti acara gathering sana sini sambil foto foto atau hanya mengekor pemerintah ikut pameran sana sini. Mereka tidak lebih dari EO dan sales belaka, bukan sekaliber pemikir dan konseptor pariwisata. Ini yang menjadi otokritik saya untuk Bali, bahwa kedepan Bali lebih banyak memerlukan SDM yang mumpuni dalam konsep cetak biru pariwisata. Organisasi pariwisata di Bali lebih banyak dipenuhi oleh kaum pragmatis. Saya juga tidak setuju jika ada ketua organisasi pariwisata malah kesana kesini ikut menjadi jurkam kandidat jelang Pilkada misalkan. Itu salah, dan itu mencederai esensi dunia pariwisata yang universal. Kecuali oknum ini memang berkepentingan akan dana bagian dana APBD ya. Ini yang menjadi penghambat organisasi pariwisata. “ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan acara ASSPI, DPD RI Bali memberikan apresiasi kepada pengurus ASSPI yang secara berdikari mengadakan acara Table Top dengan peningkatan jumlah seller dan buyer setiap tahunnya. “ Saya ini seumur hidup banyak bergaul dengan tokoh pariwisata, tapi jarang nyambung dengan beberapa tokoh pariwisata karena masalah ideologi berbeda. Idealisme kerap tidak cocok dengan tokoh pariwisata yang pragmatis. Banyak pengurus pariwisata di Bali yang hanya fokus menjual produknya sendiri, dan hanya berpikir mencari untung agar hotel, restoran dan travelnya laku. Ini sudah menjadi pekrimik di Bali. Tapi dengan ASPPI saya melihat hal yang berbeda karena mereka adalah kumpulan orang orang baik, mereka murni bekerja untuk membantu Bali. ASPPI berjuang sendiri tanpa anggaran pemerintah dan ini membuat salut. Saya kira yang seperti ini cocok menjadi pahlawan pahlawan pariwisata Bali. Lanjutkan ASPPI dan tetaplah independen agar terus bisa mendapatkan hormat dari setiap kalangan. Organisasi pariwisata harus bergaul dengan orang politik tapi jangan pernah menjadi bagian dari sistem politik. Lebih baik jaga jarak agar ada wibawa.  “ungkap Gusti Wedakarna yang anggota Komite III DPD RI Bidang pariwisata dan ekonomi kreatif ini. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *