Categories Satyagraha

GUSTI WEDAKARNA DUKUNG ASPIRASI WARGA PENUTUPAN CAFE DELOD BERAWAH

SIDAK – Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama I Made Rentana (Perbekel Delod Berawah) dan Pejabat Desa Saat Sidak Lokasi Cafe Delod Berawah

SENATOR RI SIDAK LOKASI CAFE DELOD BERAWAH DI JEMBRANA

Semakin maraknya tempat hiburan malam yang ada di Bali membuat Senator muda yang saat ini berjuang mengembalikan kedaulatan dan kedigjayaan Bali Dr. Shri I Gusti Arya Wedakarna MWS III sangat prihatin dengan kondisi Bali kedepan. Pasalnya dampak dari tempat hiburan malam itu sangat berdampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat dilihat saat dirinya menindaklanjuti aspirasi masyarakat Desa Delod Berawah terkait dengan adanya keberadaan cafe yang diduga ilegal, Senator Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Utusan Provinsi Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III melakukan inspeksi ke Desa Delod Berawah untuk meninjau lokasi. Dalam kunjungan tersebut Gusti Wedakarna diterima baik oleh  I Made Rentana (Perbekel Delod Berawah), I Putu Suardana (Bendahara Desa Adat), I Gusti Putu Somowiyasa (Wakil Bendesa Adat). Pada kesempatan tersebut Perbekel Desa Delod Berawah menyampaikan beberapa kronologis berdirinya beberapa usaha cafe yang berada dikawasan desa delod berawah, ia menjelaskan “ bahwa Café sebelum berdirinya cafe tersebut tingkat perekonomian masyarakat cukup terbatas, sehingga seiring berjalannya waktu beberapa masyarakat dan desa memberikan ruang kepada pengusaha yang ingin mengelola sebagian dari lahan yang merupakan bagian dari tanah desa adat untuk membuat suatu usaha demi meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Namun seiring dengan kurun waktu 5 tahun keberadaan usaha tersebut diperutukkan untuk membuat cafe hingga berdiri 21 cafe yang akhirnya mengakibatkan sering terjadi keributan dan perkelahian sehingga meresahkan masyarakat adat serta bertentangan dengan perarem adat bahkan saat ini telah muncul penolakan dari masyarakat hingga sekarang.” Ujarnya. Menanggapi hal tersebut, Gusti Wedakarna menyampaikan “ Bahwa saat ini kondisi Bali tengah diperparah dengan berbagai persoalan yang cukup pelik diberbagai sektor. Apalagi saat ini juga mulai muncul aksi kriminalitas disejumlah titik di Bali sehingga dengan adanya persoalan sedemikian yang ada di delod berawah akan menunjukkan citra dan karma yang cukup kurang baik bagi masyarakat dan Bali sendiri.” Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa keberadaan sejumlah cafe seperti itu akan banyak memberi dampak negatif secara signifikan diantaranya kriminal, serta  kesehatan masyarakat. “ Karena cafe remang-remang itu rentan akan berbagai tindakan seperti halnya perbuatan asusila, penyalahgunaan narkotika dan lain sebagainya, dan tentu  hal tersebut juga tidak sejalan dengan ajaran Hindu, sehingga apabila tidak adanya langkah alternatif cepat maka mau tidak mau secara tidak langsung maka tentu akan menimbulkan efek secara skala dan niskala bagi masyarakat dan daerah itu sendiri. Contoh, saat ini salah satu yang cukup berefek atas dampak dari keberadaan cafe-cafe liar adala  penyebaran HIV/AIDS di Bali. “Saya menganggap tentu perlu adanya perhatian khusus dan sninergitas yang baik antara  desa pakraman dengan pemerintah daerah maupun masyarakat untuk segera  mengambil sikap yang tepat atas keberadaan cafe yang diduga ilegal tersebut, sehingga dalam upaya mempertegas keberadaan dan penegakan hukum yang berlandaskan azas legalitas serta dengan memperhatikan Azas Desentralisasi dan Dekosentrasi pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Jo Undang-undang 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah sehingga  terkait dengan keberadaan caffe tersebut, maka sebagai pengawas undang-undang sebagai Perwakilan Lembaga Negara DPD RI Provinsi Bali. Saya meminta perlu juga adanya upaya proteksi lain dengan penegakan secara subtantif yang rill atas regulasi. Diakhir kunjungan Gusti Wedakarna berpesan agar seyogyanya pembangunan di Bali berdasarkan niat dan kesucian, bukan karena materi semata. Jika ada pihak yang menerima dengan hasil yang tidak baik (Adharma), maka karmanya juga sama. Itu saja pesan saya, secara prinsip saya dukung perbaikan.” Ungkap Wedakarna yang juga merupakan President The Hindu Center of Indonesia.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *