Categories BudayaHinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA YAKINI GENERASI MUDA HINDU AKAN MULAI TINGGALKAN RITUAL MEWAH DI BALI

SATYAGRAHA – DR. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, SE, (M.Tru), M.Si, didampingi oleh Ida Made Alit (Penasehat Desa) di Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem

HADIRI PUNCAK ODALAN PURA WATES TIHINGAN DI DESA BEBANDEM KABUPATEN KARANGASEM

Ketika berbicara upakara memang sekilas saja ketika terdengar kata itu pasti pikiran akan  langsung mengarah ke Pulau Bali karena memang dari sekian Pulau yang ada di Indonesia di Bali masih berpegang teguh dengan warisan leluhur jadi tidak heran kalau di Bali masih banyak upakara yang tidak berubah keasliannya dan kearifan lokalnya dan harus tetap di pertahankan maka dari itu sudah prioritas Gusti Arya Wedakarna selaku Senator Bali yang membidangi Agama untuk selalu bersinergi didalam mendukung dan ikut serta menjaga kebudayaan yang ada di Pulau Bali dan saat berkunjung ke Karangasem Gusti Arya Wedakarna Senator Bali sekaligus memenuhi undangan yang dikirim oleh warga Desa Tihingan yang mana hanya melalui via email saja. Dan pada saat hadir ke puncak Odalan Pura Wates Tihingan Gusti Wedakarna disambut oleh warga yang mengikuti proses Upacara puncak Odalan dan didampingi oleh  Ida Made Alit (penasehat desa), saat datang Gusti Wedakarna langsung disambut oleh Romo Mangku Pura Wates yang pada saat itu bertugas untuk membantu jalannya acara Puncak Odalan Pura Wates Tihingan Karangasem. Gusti Wedakarna senang karena sejauh ini warga Bali masih menjaga kebudayaan dan tradisi leluhur yang masih kental dan masih mempunyai Taksu. Memang untuk setiap Upakara di Bali terkadang tidak sama karena biasanya setiap Desa itu memiliki cara yang berbeda-beda tergantung dari kebiasaan adat istiadat desa tersebut karena masalah upakara itu memang harus dilaksanakan karena itu merupakan pengabdian umat Hindu di Bali untuk bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk pengabdian yang dilakukan atas dasar ketulusan dan tanpa pamrih yang mana sering disebut masyarakat Bali (ngayah) sehingga dalam konteks upacara di Bali masih dijaga dan memang tetap di jaga karena menurut masyarakat Bali upakara merupakan warisan leluhur yang harus di pertahankan dan dijaga keasliannya yang mana untuk menjaga Taksu Pulau Bali. Dan pada saat Puncak Odalan Pura Wates Tihingan dihadiri oleh tokoh masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Bali yang mana untuk melaksanakan persembahyangan bersama dan untuk melaksanakan upakara yang dilaksanakan selama berhari-hari oleh masyarakat setempat. Ia pun berpesan kepada semeton-semeoton yang ada di Bali untuk selalu tetap menjaga budaya dan adat istiadat tersebut karena itu merupakan tugas kita sebagai masyarakat Bali, “ Pesan saya kepada semeton dari sekarang harus bisa mengendalikan pengeluaran yang banyak memakan biaya yang cukup besar untuk melaksanakan upakara karena kita juga sebagai masyarakat Bali harus melihat kedepan karena sekarang kalau pendapatan tidak sesuai dengan pengeluaran maka akan menyebabkan menurutnya kemakmuran masyarakat Bali maka dari itu saya mengatakan hal seperti ini karena saya melihat dan mendengar beberapa keluhan masyarakat yang mengatakan kalau terkadang masih ada upakara yang terlalu banyak memakan biaya yang mencapai ratusan juta sehingga terkadang masyarakat tidak bisa memenuhinya dan banyak yang menjual tanah karena dampak ini maka dari itu saya  juga sudah pernah mengatakan kalau kita tidak bisa menyederhanakan banten-banten maka masyarakat Bali akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan upakara khususnya di desa-desa di Bali karena kebanyakan pendapatnnya masih belum bisa memenuhi kebutuhan banten-banten yang terlalu mahal sehingga kita sebagai Masyarakat Bali harus lebih bisa menyederhanakan pengeluaran karena konsep dari menjaga adat istiadat itu tidak harus mewah tetapi justru tidak merubah makna dari warisan Leluhur, “ungkap Gusti Wedakarna selaku Anggota DPD RI Utusan Provinsi Bali yang salah satunya membidangi Agama.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *