Categories HinduSatyagraha

GANDENG PEMKAB BULELENG, WEDAKARNA SELESAIKAN MASALAH DENGAN “PIAGAM SUKASADA”

SATYAGRAHA  – Senator RI, Dr. Arya Wedakarna, Kadisbud Buleleng, Ketua MMDP Buleleng, Penglingsir Puri Sukasada, Prajuru Desa Adat Sukasada, Penglingsir Desa Kerasan, Penglingsir Pura Tista di Singaraja

TISTA DAN KERASAN SEPAKAT UNTUK JADI BANJAR ADAT DI DESA SUKASADA

Satu lagi masalah yang diperkirakan sudah terjadi dan mengendap lebih dari setengah abad di Bali diselesaikan dengan gotong royong, yakni permasalahan antara keluarga besar Pura Tista, semeton krama Desa Kerasan dengan Desa Adat Sukasada Buleleng. Atas inisiatif dan mediasi dari Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, akhirnya muncul solusi untuk menyelesaikan masalah adat dengan bijaksana. Hal ini terekam dalam pertemuan di Balai Budaya Singaraja, yang dihadiri oleh I Gusti Putu Suarjana ( Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ), Drs. Putu Tastra Wijaya, MM ( Kadisbud Buleleng ), Nyoman Gede Suryawan
( Staf Ahli Bupati Buleleng ), Dewa Putu Budharsa ( Ketua Majelis Madya Desa Pekraman Buleleng ) serta unsur PHDI, Kementerian Agama RI, Camat Sukasada, Lurah Sukasada dan pejabat terkait. Jauh sebelum pertemuan mediasi DPD RI ini digelar, Senator RI Arya Wedakarna  telah melakukan pertemuan dua pihak yakni dengan pihak Pura Tista dan Desa Kerasan, serta pertemuan dengan pihak Bendesa Adat Sukasada beserta Prajuru, tujuannya untuk mencari solusi agar permasalahan yang ada tidak berlarut larut. “ Sebenarnya tidak ada masalah krusial diantara pihak – pihak yang ada. Dari hasil komunikasi DPD RI bahwa pihak Tista dan Kerasan memang tidak ada niat untuk memekarkan diri menjadi Desa Adat, bahkan para penglingsir Tista dan Kerasan menyampaikan keinginan agar bisa menjadi bagian dari Desa Adat Sukasada dengan mejadi Banjar Adat. Bahkan apapun penamaan Banjar Adat dan mekanisme yang dilakukan diserahkan oleh Desa Adat Sukasada sebagai Desa Adat Induk. Disatu sisi respon Desa Adat Sukasada juga sangat baik, dan beliau beliau siap untuk mengadakan paruman ( sangkep ) dengan warga adat, dan nantinya tentu akan diputuskan lewat keputusan resmi Desa Adat. Ini merupakan sifat kenegarawanan yang luar biasa antara Tista, Kerasan dan Desa Adat Sukasada. Tiang sangat mengapresiasi sifat – sifat legawa seperti ini dengan tujuan tunggal yakni agar tidak mewariskan permasalahan kepada anak cucu dan generasi Hindu dimasa yang akan datang.”ungkap Gusti Wedakarna. Dalam pertemuan tersebut, Senator Arya Wedakarna menolak setiap pihak membicarakan masalah – masalah di masa lalu, dan hanya terfokus pada mencari solusi dimasa depan. “ Tadi saat memimpin rapat, tiang menolak semua pihak membicarakan masa lalu karena tiang tidak ingin ada pihak yang tersakiti. Kita berkumpul untuk mencari solusi dalam payung Hindu Dharma dan astungkara atas jiwa kenegarawanan semua pihak, maka tercapai kesepakatan awal pada hari ini. Dan semoga energi warga Sukasada kedepan akan fokus untuk pembangunan desa sehingga bisa sejajar dengan desa desa besar lainnya di Buleleng bahkan di Bali. Dalam sejarah Hindu Bali, daerah Sukasada ini adalah garda terdepan pertahanan bumi panji Sakti. Sejak zaman kerajaan hingga zaman perjuangan kemerdekaan, Sukasada selalu menjadi Front Liner, garis depan dari Buleleng. Jika Sukasada ada masalah tentu kedigjaan Hindu Dharma di Buleleng dan di Bali akan terhambat. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga berdarah Buleleng. Diakhir acara, pihak Pemkab Buleleng, MMDP dan DPD RI Bali sepakat akan menggelar Deklarasi Piagam SUKASADA pertemuan deklarasi serta yang dilengkapi  upacara Matur Piuning lan Guru Piduka di Sukasada, serta secara niskala akan ditandai penandatanganan prasasti persatuan yang dinamakan “Piagam Sukasada”, sebuah sejarah baru yang diciptakan oleh para penglingsir – penglingsir di Sukasada. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *