Categories HinduInternasionalSatyagraha

“DIPAWALI” MOMENTUM GENERASI MUDA HINDU BALI BELAJAR KETERBUKAAN

SATYAGRAHA – Senator RI, Dr. Arya Wedakarna bersama Menteri Agama RI Lukman Hakim

DPD RI DUKUNG KEPUTUSAN KEMENTRIAN AGAMA TERKAIT DIPAWALI

Lembaga negara DPD RI khususnya anggota Komite III Bidang Agama utusan Provinsi Bali Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III sangat mendukung keputusan Kementrian Agama RI dalam hal ini Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu yang telah mengeluarkan keputusan surat nomer : B-4240/DJ/VI/BA.03.1/10/2017 Tanggal 4 Oktober 2017 tentang Libur Fakultatif Hari Raya Dipawali yang diperingati oleh sebagian umat Hindu Indonesia pada tanggal 18 dan 19 Oktober 2017. Hal ini semakin memperkuat peran dari umat Hindu Indonesia dalam mengisi pembangunan bangsa, sehingga diharapkan apapun latar belakang umat Hindu Indonesia akan mendapatkan pengayoman. Demikian ungkap Senator RI Dr. Arya Wedakarna ( AWK ) disela-sela pertemuan dengan sejumlah komponen Hindu. “Saya kira, dengan keputusan Kementrian Agama RI ini menjadi sebuah sinyal positif bahwa adanya perhatian yang lebih dari pusat kepada umat Hindu. Setelah berpuluh-puluh tahun, akhirnya adanya perhatian terhadap hari raya Dipawali yang kita harus akui bahwa ini dirayakan oleh sebagian komunitas Hindu Indonesia khususnya keturunan India yang memiliki akar kental dengan tradisi di Bharat ( tanah India ). Ini sebuah hal positif dan saya sebagai wakil rakyat dan mewakili umat Hindu di Senayan juga sangat mendukung sekali” ungkap Gusti Wedakarna. Iapun meminta bahwa umat Hindu Indonesia khususnya yang bersuku Bali untuk dapat menerima keputusan ini dengan gembira, walau hari raya Dipawali tidak masuk dalam agenda hari raya suci umat Hindu Indonesia yang mayoritas Hindu etnis Bali. “Mari kita jadikan momentum hari raya Dipawali sebagai momentum kesepahaman antara umat Hindu keturunan Bali dan umat Hindu keturunan India. Hari Raya Dipawali adalah hari raya suci, festival cahaya yang menandakan kemenangan terang atas kegelapan serta penghormatan pada Ibu Dewi Laksmi ( yang di Bali disebut sebagai Dewi Sri ). Ada 1,2 Milyar umat Hindu Dunia yang merayakan Dipawali disemua benua. Jadikan momentum hari raya ini sebagai hari besar umat Hindu Indonesia, yang penting umat Hindu harus bersatu padu. Kita syukuri keputusan negara terkait libur fakultatif. Ibaratnya, sama seperti hari raya Nyepi, Galungan, Kuningan, Siwaratri yang sangat bernuasa Bali juga dirayakan oleh umat Hindu Jawa, Hindu Tamil, Hindu Kaharingan, Hindu Mamasa, Hindu Kei Ambon, Hindu Sunda dan Hindu lainnya. Disini ujian Tat Twam Asi sesungguhnya. Ngiring dukung semeton Hindu yang merayakan hari ini.” ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia ini. Iapun menolak jika acara Dipawali ini dianggap ke-India Indiaan dan meminta semua pihak untuk menahan diri terhadap isu tersebut. “Saya minta umat Hindu Bali, jangan sekali kali anti dengan Hindu non Bali. Karena jika kita anti dengan budaya Hindu lainnya maka sama juga kita seperti kaum fundamentalis radikal. Hindu Bali sangat terbuka dan universal dan mulailah kita menggandeng, bersekutu, berserikat dan bersatu dengan Hindu apapun termasuk budaya Hindu India. Saya yakin, tidak ada budaya yang superior, semua budaya adalah baik dan mari Tri Kaya Parisudha. Anak muda Bali jangan khawatir bahwa Hindu Bali tidak akan tergerus dengan budaya dari luar, dan ngiring mangkin instrospeksi diri agar budaya Bali kita semakin kuat tanpa harus menyalahkan orang lain. Kultur instrospeksi, mulat sarira dan kurangi mengkritik sesama Hindu ini yang harus ditanamkan pada anak muda. Jangan sampai sudah minoritas tapi tidak bersatu. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga putra salah satu pendiri PHDI Bali ini. Iapun sepakat bahwa kedepan perhatian khusus libur Fakultatif Dipawali ini akan menjadi agenda tetap pembahasan Komite III DPD RI dengan Menteri Agama RI di Senayan, sehingga kedepan bisa diperjuangkan menjadi hari libur nasional. “Cita cita saya hari raya Siwa Ratri atau Dipawali ini bisa menjadi Hari Libur Nasional. Selama ini Hindu hanya punya satu hari raya nasional saja. Sebagai sebuah cita – cita ini harus terus digelorakan, siapapun menterinya, siapapun presidennya. Sehingga ini menjadi agenda tetap perjuangan Hindu Indonesia. This is Satyagraha  dan syukurlah sudah ada kemajuan di 2017. Terimakash kepada pemerintah pusat khususnya Menteri Agama RI dan Dirjen Hindu Kemenag RI. “ungkap Gusti Wedakarna. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *