Categories BudayaHinduNasional

GAGASAN WEDAKARNA, SIMBOL PEMIMPIN BALI YANG TOLAK EKSPLOITASI ALAM SEMESTA

MAHAKARYA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Hadir Di Pemelaspasan Patung Dewi Danu Di Desa Songan Kintamani Bangli

PEMELASPASAN PATUNG DEWI DANU TERTINGGI DI SONGAN KINTAMANI

Bertepatan dengan Purnamaning Kanem Tahun Saka 1939, sebuah mahakarya persembahan tokoh muda Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa yakni Patung Dewi Danu tertinggi di Indonesia yang berdiri megah dipinggir Danau Batur, Desa Songan, Kintamani, Bangli. Patung yang didirikan bekerjasama dengan Desa Adat Songan Kintamani Bangli ini dipelaspas oleh tiga sulinggih yakni Ida Rsi Nabe Bujangga Sangging Prabangkara Dwijasana, Empu Rekadnyana Sidhanta, Ida Mpu Dharma Nila Wreksa dan dihadiri oleh Jero Temu ( Bendesa Adat Songan ) dan Jero Lanang, SE ( Perbekel Desa Adat Songan ). Patung Dewi Danu yang dibangun oleh Maestro Gede Wibawa ( Pematung Asal Desa Penyaringan, Jembrana ) ini, berdiri diatas muntahan batu besar yang dipercaya hasil erupsi Gunung Batur berabad – abad lalu. “ Patung Dewi Danu ini dibangun selama 123 alias satu tahun, dua bulan dan tiga hari. Pertama kali diletakkan batu pertama pada 17 Agustus 2016 saat Purnama. Dan atas bimbingan spiritual dari Ibu Dewi Danu, patung ini bisa dibangun tanpa kendala berarti, termasuk keajaiban saat bencana longsor Songan, justru air bah melewati lokasi berdirinya Patung Dewi Danu. Padahal area sekitarnya sudah hancur. Selain itu selama pengerjaan, secara gaib Ibu Dewi Danu memberikan banyak nasihat melalui wisik dan mimpi, termasuk pesan beliau agar dibuatkan kendaraan berupa Naga, rencang berupa patung Ikan Mujair serta syarat adanya 5 patung Bidadari sebagai pengabih beliau. Keanehan yang lain, saat tukang mengerjakan, selalu dihampiri oleh anak macan loreng selama beberapa hari dilokasi patung. Kita tidak menyangka ada duwe berupa macan yang datang tiap hari memantau para pekerja. Semua mengalir begitu saja, dan hasilnya semua selamat dan rahayu. “ ungkap Gede Wibawa, pematung yang juga mengerjakan Patung Siwa Mahadewa dipelabuhan Gilimanuk ini. Disekitar area patung Dewi Danu, juga dibangun 5 patung bidadari, seorang patung ksatria dan serta prasasti. “ Patung Dewi Danu adalah simbol penghormatan pada Dewi Danu, patung Bidadari lambang penjaga alam semesta Panca Maha Butha dan Pancasila, sedangkan Patung Ksatria adalah lambang Dalem, lambang Ksatria yang berarti manusia yang seharusnya menjaga ibu pertiwi, menjaga alam semesta termasuk danau, gunung, bukit dan laut. Sedangkan Prasasti melambangkan karya yang dipuniakan oleh Ratu Gusti Ngurah Wedakarna sebagai penggagas. “ ungkap Gede Wibawa. Acara peresmian Patung Dewi Danu sendiri akan diadakan pada 31 Desember 2017 pukul 11.00 – 13.00 Wita dilokasi Patung yang akan diselenggarakan oleh DPD RI Provinsi Bali B65 bersama Masyarakat Adat Songan, sebagaimana harapan dari Ratu Shri Gusti Wedakarna. “ Tugas tiang sebagai Ksatria adalah ikut membangun Bali melalui landmark yang monumental. Kita berharap dengan adanya Patung Dewi Danu ini, umat manusia menjadi eling dengan sang ibu, yang telah memberikan amerta bagi Bali. Patung ini dibiayai oleh uang pribadi, tidak memakai uang APBN dan APBD dan ini murni dari keringat tiang. Tentu tanpa restu pemerintah, Desa Adat Songan dan pengorbanan para pekerja, maka semua tidak bisa terwujud dengan baik. Dan nanti akan tiang serahterimakan pada Desa Adat Songan dengan harapan akan menjadi destinasi wisata spiritual baru di Bali dan berharap akan membangkitan ekonomi didesa. Apalagi tempo hari Songan sempat terkena bencana alam longsor yang harus kita bantu.  Ini juga sebagai perayaan atas suksesnya kesepakatan antara Pemerintah Pusat, dan Pemkab Bangli yang telah menyepakati perjanjian kerjasama kawasan Kaldera Geopark Bangli yang baru ditandatangani beberapa waktu lalu, juga berkat rekomendasi dan dorongan DPD RI. Kita manusia cuma alat beliau sang Niskala. “ ungkap Gusti Wedakarna Dalam peresmian patung pada 31 Desember 2017 nanti, diperkirakan akan dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat Bali. Rencananya acara akan dihadiri oleh pejabat pusat, diplomat asing dan kedutaan, forum raja sultan nusantara, puri puri se-bali,  majelis desa pekraman se Bali, pemerintahan provinsi dan kabupaten, PHDI, Ashram, Perguruan Tinggi, Organisasi Pariwisata, pengurus Hindu Center se-Indonesia serta seniman dan budayawan Bali serta ribuan warga Songan dan desa sekitarnya.  Direncanakan akan diturunkan juga tarian Sakral Bedoyo Segoro Kidul yang merupakan gagasan Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX yang hanya tedun pada 23 Agustus ( Sugeng Wiyosan Ratu ), 11 November ( Hari Kelahiran Majapahit ) dan 31 Desember ( Ngadeg Ratu ) sebagai wujud penghormatan pada Ibu Jagat. (humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *