Categories Nasional

PILGUB BUKAN HANYA URUSAN KEKUASAAN, TAPI MENGUKUR KEPERCAYAAN DIRI PARTAI

ANALISIS POLITIK ARYA WEDAKARNA TERKAIT PILGUB 2018

Dalam kacamata politik Marhaenisme yakni sosio demokrasi, setiap partai politik memiliki tugas utama selain merebut kekuasaan lewat panggung pemilu tapi juga wajib memberikan “pendidikan politik” kepada masyarakat luas, salah satunya menjadi teladan dalam berorganisasi politik. Keteladanan tersebut yakni berani bertarung dengan percaya diri tanpa keraguan sebagaimana diteladani oleh Sri Kresna dan Arjuna dalam itihasa Mahabarata. Demikian diungkap oleh tokoh PNI Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III ketika ditanya komentarnya terkait konstelasi Pemilihan Gubernur Bali 2018 mendatang. “ Di Bali ini ada contoh buruk dari ketua  partai partai besar di Bali karena mereka tidak percaya diri maju ke Pemilihan Gubernur Bali 2018. Harusnya, jika mereka yakin dengan kemampuan diri sendiri, percaya dengan kebesaran partai mereka maka ketika gerbang Pilkada terbuka, sang ketua partai harus percaya diri menjadi calon Bali 1. Jangan ada lagi negosiasi kiri dan kanan, nanti malah kena tuduh masyarakat sebagai parpol yang transaksional dan pasti akan ditinggal pemilihnya bukan saja di Pilgub 2018 tapi juga di Pemilu 2019. Jadi menurut saya, Ketua DPD Partai tingkat Provinsi yang punya suara besar dan kursi di DPRD harusnya percaya diri memajukan ketua partainya sebagai Bali 1. Apalagi kalau memang pantas jadi Calon Gubernur jangan mau jadi Calon Wakil Gubernur, ini kan memalukan partai. Tidak ada keteladanan, tidak ada jiwa ksatria. Dan akibatnya bisa di-bully orang partai sendiri atau masyarakatnya. Ini berlaku  untuk Ketua Ketua Partai yang hanya memikirkan harga diri mereka semata dan di Bali banyak yang macam seperti ini. Dari sudut pandang ajaran Bung Karno, ini tidak pantas. ”ungkap Gusti Wedakarna. Terlebih, menurut Senator DPD RI Dapil Bali ini, kondisi keragu – raguan ini justru menguntungkan bagi calon penantang semisal PDI Perjuangan. “ Politisi Bali kalau mau belajar tentang sikap politik yang percaya diri, maka belajarlah dari PDI Perjuangan. Terlepas dari dinamika internal partai mereka, tapi partai ini sangat pede dalam urusan pencalonan dan tanpa banyak grasa grusu. Dan jalurnya sudah tepat yakni mencalonkan Ketua DPD PDIP Bali yakni  Wayan Koster untuk Calon Bali 1. Ini baru benar dan akan menjadi selling point yang bagus. Saya rasa keteladanan ini harus ditiru oleh pimpinan partai lain seperti Golkar, Demokrat dan Gerindra yang punya kursi cukup di DPRD Bali atau secara jumlah suara yang besar. Logikanya, dalam seni politik Ketua Partai itu komandan, Ketua Partai itu Panglima, dan tugas Panglima itu ada digaris terdepan bukan sebaliknya.  Kalau jadi ketua partai yang duduk dibelakang meja dan sekedar hadir seremonial, ya lebih baik tidak usah jadi ketua partai ya ? Inilah tanda taksu yang hilang ketika partai partai yang mengaku nasionalis ternyata kurang berani bertarung di Pemilu atau Pilkada. Semakin ragu, maka semakin terbuka kesempatan untuk kalah. Dan dipastikan jika gagal mengelola kemampuan diri di Pilgub 2018, maka pasti suara di Pemilu 2019 akan terjun bebas. Lihat saja.”ungkap Gusti Wedakarna. Maka dari itu, Wedakarna memberikan pesan kepada Incumbent termasuk Ketut Sudikerta ( Wagub Bali saat ini ), harus memiliki kepercayaan diri dalam bertarung di Pilgub Bali, dan jangan terbawa arus dengan pendapat koalisi. “ Ingat, Pilgub 2018 adalah tentang menjual figur, menjual  track record pemimpin. Yang penting dalam pertarungan nanti adalah visi membangun Bali. Incumbent harus percaya diri jadi Bali 1, tinggal pilih Cawagub yang bisa mengimbangi suara PDI Perjuangan dan basis Marhaenisme, maka akan mudah menang. Jangan juga memilih figur pengkhianat yang sudah punya track record jelek dimasyarakat. Ketua Partai Besar jangan mau diatur atur oleh partai koalisi karena koalisi itu basisnya kepentingan. Kadang kita akui ada yang kepentingannya murni untuk Bali dan kadang ada yang kepentingannya pragmatis sesaat. Seperti yang saya bilang sebelumnya, bahwa Pilgub 2018 ini kesempatan besar untuk menang untuk incumbent karena partai terbesar di Bali sudah pecah, sudah belah dan sudah cerai berai. Jadi siapapun jangan terpancing dengan propaganda politik zigzag ini. Ini permainan kelas tinggi untuk membuyarkan konsentrasi kandidat potensial. Kita tahulah  oknum oknum parpol di Bali banyak  yang berada didua kaki. Yang sudah deklarasi pun belum tentu aman, karena pecahnya internal partai mereka. Banyak kekuatan politik di Bali yang akan berkhianat, yang parkir alias diam dan Golput di 2018 ini. Pesan saya cerdas cerdas menangkap peluang. Ingat pesan Sri Krisna pada Arjuna agar fokus pada swadharma, kerjakan dengan baik semua tugas pemimpin dan masalah hasil akhir biarkan semesta yang menilai  “pungkas Gusti Wedakarna sang pemenang dengan surat terbanyak dalam Pemilu DPD pada tahun 2014 di Bali ini. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *