Categories BudayaNasionalSatyagraha

BALI DARURAT NARKOBA, WEDAKARNA MINTA JAGABAYA DESA TINGKATKAN “ SENSE INTELIJEN”

Satyagraha- Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bertemu Komisari Jendral Polisi Budi Waseso ( Kepala BNN )  di Denpasar

SENATOR DUKUNG PENINGKATAN WEWENANG BNN DALAM TUPOKSI

Anggota DPD RI Komite III bidang pemuda dan Kesehatan, Dr. I Gusti Ngurah Arya Wekarna MWS III menanggapi Pernyataan Komjen Polisi Budi Waseso ( Kepala Badan Narkotika Nasional/BNN ), yang menyatakan bahwa diperlukan adanya sinergi antara BNN, Pemerintah dan khususnya masyarakat di daerah khususnya adat untuk merendam peredaran narkoba di Bali. Hal ini mengingat Bali sebagai tujuan pariwisata dunia, dinilai rentan dari bahaya narkotika. Dukungan atas kinerja BNN ini disampaikan oleh Senator Arya Wedakarna saat hadir memenuhi undangan Puri Tegal Denpasar diacara peluncuran program pembrantasan Narkoba. “Saya cukup kaget juga mendengar penjelasan kepala BNN bahwa sudah ada satu desa yang 62% masyarakatnya terjamah Narkoba. Dan menurut saya tak cukup hanya pembrantasan oleh pihak BNN atau Polri, tapi juga perlu keterlibatan desa adat. Saya setuju jika Desa Adat di Bali dan juga banjar banjar adat di Bali untuk segera menerbitkan pararem terkait dengan anti narkoba. Ini penting karena orang Bali khususnya warga adat lebih takut dengan sanksi adat dibanding dengan hukum positif, maka dari itu perlu diberikan efek jera. “ ungkap Senator Arya Wedakarna”. Iya juga menyatakan prihatin bahwa beberapa waktu lalu, ada oknum anggota DPRD Bali yang terlibat dalam narkoba bahkan diduga sebagai Bandar, dan ini akan mencoreng nama baik Bali. “ Bali itu seharusnya dikenal dengan pemimpin yang berani, yang kesatria dan yang memiliki kecerdasan dalam membantu pemerintah dalam pembangunan. Bukan sebaliknya, Bali justru dikenal karena pemimpinnya terkait narkoba. Dan saya sepaham bahwa pengawasan ditingkatkan dusun, banjar adat, desa adat harus dimaksimalkan. Pararem atau Awig harus mutlak, tapi tentu kita dorong Majelis Desa Adat ( MUDP) memberikan pedoman “ Bali Mawacara”, dan nanti desa adat tinggal mengcopy saja. Tentu dalam pararem perlu pembinaan, sampai sanksi terkeras yakni kasepekang alias dikeluarkan oleh desa adat. Ini akan banyak membantu anak anak muda Bali untuk terhindar dari narkoba.” Ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia ini. Iya juga berharap kedepan Desa adat mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga warga adat terutama kalangan sekaa teruna teruni ( STT ) dalam pembrantasan narkoba. “ disatu sisi jangan hanya orang Bali saja disalahkan dalam urusan narkoba, banyak juga orang dari luar Bali baik itu pendatang musiman, turis dan para expatriate yang datang ke Bali yang masuk jaringan narkoba. Kini desa adat terutama jagabaya harus punya sense intelijen untuk mengawasi hal ini. Jika ada yang dicurigai langsung lapor ke aparat. Kita bantu Polri untuk membrantas ini. Lainnya kita bentengi dengan perangkat aturan adat sesuai dengan aturan dan UU. “ ungkap Senator Arya Wedakarna ( AWK ). Disatu sisi, ia mendukung upaya Kapolda Bali dalam membrantas narkoba terutama di pusat pusat hiburan malam yang dinilai melanggar aturan.” Saya apresiasi atas penutupan Akasaka kemarin, dan juga ada cafe, klub dan pusat hiburan malam yang terindikasi sebagai sarang pemakai dan sarang distribusi narkoba. Saya juga mendorong peredaran narkoba dipenjara bisa diputus segera. Ini perlu kerja sama dan sinergi semua pihak. Saya puji kinerja dari Komjen Budi Waseso di BNN, dan ini menjadi catatan dari DPD RI Bali. “pungkas Dr. Arya Wedakarna President The Sukarno Center ini ( Humas).

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *