Categories BudayaHindu

ANTISIPASI MASALAH PENDATANG, DESA ADAT HARUS BENTUK PENGURUS KHUSUS PALEMAHAN

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pengurus Forum STT Kabupaten Badung

SENATOR RI DIUNDANG MOTIVASI FORKOM STT SE-KAB. BADUNG

Masalah bertubi tubi yang datang ke krama Bali terkait dengan penanganan tamiu dan krama tamiu ( Palemahan ) akhir akhir ini membuat prihatin Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. Energi umat Hindu yang merupakan krama adat di Bali yang begitu besar untuk menjaga kesucian pulau Bali, harus terbagi dengan berbagai masalah masalah diluar Parahyangan dan Pawongan. Maka dari itu, Senator Arya Wedakarna menyampaikan usulan agar masing – masing desa adat di Bali membentuk bagian khusus palemahan dalam struktur desa adat di Bali. Demikian diungkap Senator Arya Wedakarna ( AWK ) dihadapan generasi muda adat Bali yakni STT di Abiansemal dalam acara Forkomda Kabupaten Badung khusus Sekaa Teruna Teruni ( STT ). “ Seiring dengan dinamika yang dihadapi oleh desa adat di Bali, maka penting untuk membentengi Bali dengan bagian atau section khusus distruktur Desa Adat yang khusus mengurusi pendatang ( tamiu ) dan wilayah kerjanya adalah mengenai  hal hal terkait keamanan, administrasi dan advokasi jika ada permasalahan. Ini sangat membantu aparat agar masalah masalah didesa adat bisa diselesaikan secara adat dan bijaksana. Ambil contoh masalah penolakan oknum taxi online di Canggu yang berdebat dengan krama adat serta juga masalah kejadian krama adat dengan warga dari Indonesia Timur di Desa Dalung. Ini harus segera ditanggulangi dengan struktur organisasi adat yang permanen. Ini sifatnya memberikan pembinaan, sosialisiasi awig dan perarem, tapi jika sudah masuk ke wilayah hukum positif maka itu urusan Polri. Tapi alangkah bijaknya jika desa adat bisa membantu menyelesaikan secara adat. “ ungkap Gusti Wedakarna. Maka dari itu, ia meminta agar desa adat bisa merekrut para Sarjana didesa desa untuk ikut membantu hal ini, sambil memberi kesempatan kerja pada anak muda didesa. “ Kedepan bendesa adat dan prajuru fokus pada tugas melayani urusan adat warga dan menjaga sistem ada baik menjaga wibawa perarem dan awig. Nanti anak anak muda adat ini yang diberdayakan untuk membantu menjembatani masalah urusan dengan palemahan dan pendatang. Sehingga beban para bendesa ini menjadi lebih ringan. Lagipula setiap desa adat di Bali ini memiliki otonomi mandiri. Landasannya juga ada yakni UUD 1945 Pasal 18b, UU No.6 Tahun 2014 dan Perda Desa Pekraman 2003. Sehingga tidak usah ragu, karena prinsipnya menjaga budaya Bali yang merupakan bagian dari NKRI. “ungkap Gusti Wedakarna. Dihadapan STT Se-Badung, Gusti Wedakarna juga membahas sejumlah hal khususnya dibidang ekonomi Satyagraha, membahas modernisasi organisasi STT serta memberikan motivasi agar STT menjadi organisasi kader untuk melahirkan pemimpin didesa. “ Belajar dari keruntuhan Majapahit, bahwa keruntuhan budaya Hindu itu disebabkan oleh dua hal yakni tidak adanya kaderisasi pemimpin Hindu yang kuat dan militan serta tidak adanya kekuatan ekonomi yang menunjang. Ini yang harus kita perbaiki. Ini gunanya Tuhan melahirkan saya, anda dan kita semua, yakni agar Bali bertahan sebagai pusat budaya dan peradaban baik di Nusantara. Dan semua tidak bisa diselesaikan hanya dengan berdoa belaka, tapi juga dengan strategi, dengan artha dan juga dengan meningkatkan persatuan warga Bali. Saya senang, budaya Bali anak – anak muda Bali sudah semakin sadar dengan gerakan Satyagraha, gerakan ahimsa dan gerakan intelektual. “ungkap Gusti Wedakarna, peraih suara tertinggi Pemilu DPD RI Tahun 2014 di Bali ini. (humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *