Categories BudayaHinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA DUKUNG DESA ADAT PERTAHANKAN PURA TANPA MENGGANTI KEASLIANNYA

SATYAGRAHA- Dr. Gusti Wedakarna MWS III ( Senator RI ), I Ketut Ridia ( Camat Baturiti), Drs. Wayan Mudiana ( Bendesa Adat ), I Nyoman Lontar (Ketua Panitia ) beserta Jro Mangku dan Warga Usai Tinjau Pura 

HADIRI UPACARA ADAT DI PURA BUKIT SARI DESA LUWUS KABUPATEN TABANAN

JASMERAH – menghadiri acara Adat di Pura Bukit Sari Senator RI Utusan Provinsi Bali di sambut dengan baik oleh warga adat Banjar Pujuan Desa Luwus Kabuaten Tabanan, acara yang diselenggaran oleh warga adat Pujuan tersebut dilaksanakan 10 Tahun sekali yang di kelola oleh kurang lebih 100 KK warga adat banjar Pujuan dan biasanya dilaksanakan bergilir dengan banjar Paliang yakni yang termasuk didalam Desa Luwus untuk mengurangi pengeluaran untuk melaksanakan upakara tersebut dari pihak desa mewajibkan agar warga adat membayar iuran yang telah ditentukan dan pembayaran tersebut bisa di cicil, acara tersebut juga di hadiri oleh Anggota DPR RI Komisi IV (I Made Urip), perwakilan Bupati Tabanan yang di wakili staf ahli bidang ekonomi (I Ketut Subrata, SE), dan camat Baturiti (I Ketut Ridia, Spd). Pada kesempatan itu Bendesa Adat Desa Luwus menyampaikan banyak-banyak terima kasih kerena dari kesibukan yang begitu padat para pemimpin Bali yang mewakili semeton Bali berkenan hadir diacara yang telah selenggarakan kurang lebih 1 bulan yang lalu, pada kesempatan itu seusai melakasanakan persembahyangan bersamu oleh tamu undangan di Pura Bukit Sari Gusti Wedakarna selaku Anggota DPD RI Utusan Provinsi Bali menyarankan kepada Bendesa Adat dan warga adat yang pada saat itu hadir di acara tersebut untuk selalu menjaga kaaslian warisan leluhur, karena sekarang ini apabila pura-pura yang sudah berumur tua tanpa ada perubahan selama 50 Tahun dan yang sesuai dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, ‘’Saya akan dukung bendesa dan warga adat seluruh Bali agar tidak mengubah bangunan yang sudah mempunyai nilai-nilai budaya yang kental dari peninggalan leluhur, itupun semisal mau merubah Pura atau bangunan-bangunan bersejarah, pesan Saya jangan sampai merubah total apalagi merombak, karena semenjak keluarnya Undang-Undang Cagar Budaya kita sebagai orang Bali sudah mempunyai perlindungan dari Negara, asalkan bangunan ataupun situs-situsnya itu   masih asli dan tidak ada perubahan selama 50 Tahun semenjak bangunan itu berdiri, sehinga setelah itu warga desa adat tinggal daftarkan sebagai situs Cagar Budaya, supaya apabila ada kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam maka semua akan ditanggung oleh Negara, dan Saya sangat senang Pura asli dipertahankan dan masih dengan bahan bata merah, merunya juga banyak berlumut menandakan vintage dan yang pasti taksunya sangat kuat,’’Ujar Gusti Wedakarna ‘’. Ia pun juga selaku anggota DPD RI Provinsi Bali yang sekarang ada di Komite III yang salah satunya membidangi di bidang agama, kesra tak lupa menyarankan kepada warga yang hadir di Pura Bukit Sari agar kedepannya bisa lebih menyederhanakan dalam melaksanakan Upakara, karena untuk saat ini orang-orang Bali masih banyak yang tidak mampu bahkan bisa dikatakan pas-pasan, maka untuk meringankan beban masyarakat Adat ia berharap agar Desa Adat bisa menyederhanakan setiap Upakara apakah dalam bentuk banten ataupun juga mengurangi dan mempercepat jalannya upacara adat itu sendri “ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center  Of Indonesia.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *