Categories BudayaHindu

SHRI ARYA WEDAKARNA SETUJUI PEMBANGUNAN CETIA DAN BUDDHIST CENTER DI DESA SEMPIDI

RESES – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pejabat Badung, Desa Adat Sempidi, Tokoh Budha meninjau lahan milik yayasan umat Buddha di Sempidi Badung

SENATOR MEDIASI UMAT BUDDHA  TERKAIT PENOLAKAN WIHARA

Anggota Komite III DPD RI Bidang Agama, Budaya dan Kesra utusan Provinsi Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III akhirnya turun tangan menanggapi aspirasi dari umat Buddha yang disampaikan dalam rapat di Kantor Kementrian Agama RI Provinsi Bali beberapa waktu lalu, dan dalam masa reses ditahun Sidang 2018 ini, Senator RI menggandeng Pemkab Badung, Camat Mengwi, Lurah Sempidi dan Kementrian Agama Prov dan Kab. Badung, menghadirkan Polsek Mengwi, Babinkamtibnas TNI, Bendesa Adat Sempidi, Klian Adat, Klian Dinas, Tokoh Hindu, pengurus Yayasan  Pandita Sabha Budha Dharma Indonesia  serta umat Buddha yang mengempon wihara yang sudah didirikan puluhan tahun lalu itu. Setelah mendengar argumentasi kedua belah pihak termasuk unsur pemerintah dan aparat, Shri Gusti Wedakarna secara filosophy memberikan nasihat kepada kedua belah pihak bahwa seharusnya umat Hindu dan Buddha sebagai minoritas di Indonesia haruslah bersatu padu dan pihak adat harus bisa secara fair melihat duduk permasalahan terutama hukumnya dengan sejarah Bali. “Jangan pernah dilupakan bahwa Bali yang saat ini dibentuk dari persatuan Siwa Buddha, dulu Raja Bali Dalem Balingkang memiliki permaisuri seorang Buddha. Jejak persatuan satu natah ada dua tempat ibadah seperti di Batur Kintamani dan Balingkang Bangli adalah contoh kehebatan leluhur. Maka agak aneh jika orang Hindu Bali ada yang menolak Wihara. Jika itu dilakukan maka siap siap terkena pastuning pastu. Anda boleh tidak suka dengan si A atau si B, tapi jika sudah masalah melinggihkan parahyangan Buddha, Awatara Sri Wisnu, maka kita harus mendukung. Hindu Buddha adalah bagaikan dua sisi mata uang. Saya minta selesai masalah disini dan kedepan ayo Hindu Buddha bersatu. Jangan sampai masalah ini jadi masalah nasional, nanti buat malu Bali.”ungkap Shri Arya Wedakarna. Namun disatu sisi ia meminta 300 umat Buddha yang mengempon Wihara ini untuk mendengar nasional desa adat, berbaur dengan masyarakat adat Bali dan jangan eksklusif. “Saya minta siapapun pendatang di Bali baik yang dalam isttilah didesa disebut dauh tukad atau krama tamiu, agar menghormati dimana bumi dipijak disana langit dijunjung. Hargai tuan rumah adat Bali dan umat Hindu sebagai mayoritas di Bali. Toleransi tidak boleh satu arah, tapi harus dua arah. Jadi saya minta umat Buddha agar instrospeksi diri termasuk menyelesaikan masalah internal sebagaimana yang saya dengar tadi. Bereskan dulu, berdamain dulu dengan saudara sendiri baru membuat simbol Buddha yang hebat hebat. Buddha adalah Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu dan kami umat Hindu sangat hormat pada Buddha. “ungkap Shri Arya Wedakarna. Selanjunya usai pertemuan RDP, Senator langsung meninjau tempat diatas tanah yayasan Buddha dan memberikan instruksi agar segera membangun simbol Buddha ditempat ini. “Saya setuju jika umat Buddha mendirikan simbol diatas tanah yayasan ini. Silahkan. Bangun gedung serbaguna, bangun altar Buddha ( Cetia ) dan perpustkaan Buddha. Saya namakan areal ini sebagai The Buddhist Center. Saya akan keluarkan rekomendasi resmi tertulis bahwa saya dukung Altar Buddha disini dan saya minta Bupati Badung,Camat, Lurah kawal ini sampai tuntas. Tempat yang kama dibongkar saja, dan jadikan lahan parkir, sehingga tidak ada ribut rebut masalah parkir seperti kemarin. Saya minta semua bersatu. Tidak boleh ada penolakan Wihara Buddha di Bali, silahkan bangun Wihara sebesar – besarnya, karena Buddha adalah saudara umat Hindu, kita berasal dari satu akar yakni budaya Weda dan Sansekerta. Saya akan ada terdepan untuk umat Buddha di Indonesia. “pungkas Shri Arya Wedakarna yang juga Duta Besar Perdamaian UPF – PBB ini. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *