KULTUR ILMU HITAM

arya.vedakarna031

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI/ PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

 Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III,SE(MTRU),M.Si

Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX

Melanjutkan tulisan saya diedisi sebelumnya, sebenarnya saya agak kurang suka dengan tema kali ini, walau harus tetap saya ungkapkan sebagai bagian dari otokritik masyarakat Bali.Apa sebab? Pertama, karena rakyat Bali dipaksa hidup ditengah kultur negatif dilingkungan orang Bali itu sendiri yakni adanya kultur menggunakan ilmu hitam,ilmu desti, ilmu cetik, pengleakan. Alasan kedua, saya tidak suka dengan tema ini karena sebagai intelektual saya tidak mengakui keberadaan ilmu – ilmu magic macam begini, mosok Doktor Termuda Di Indonesia ini percaya dengan hal – hal klenik ? Tapi sudahlah…memang ini tugas saya sebagai intelektual untuk terus mencurahkan dan memberikan pencerahan pada masyarakat. Dunia ketimuran, memang penuh dengan sisi gelap seperti ini, tanpa kecuali Bali sebagai bagiannya. Nah bicara masalah ilmu hitam, kita diajak memikirkan satu  hal yang agak sulit dibuktikan secara hukum, tapi saya coba menuangkan dalam sudut pandang berbeda. Budaya Ilmu hitam di Bali adalah sebuah kultur negatif yang harus segera direvolusi, karena kultur ini tumbuh dari sebuah budaya iri hati dan dengki dari individu – individu yang ada disekitar kita.Bagaimana tidak ? kita harus menyadari bahwa kehidupan ilmu hitam ini sudah mendarah daging dan menjadi pendamping bagi keseharian orang Bali, tidak peduli apakah itu didesa atau dibelantara kota termasukpun terjadi dikalangan berpendidikan.

Ilmu hitam ini hidup dengan komunitas sendiri, walau saya tetap menyakini sebagian besar dari rakyat Bali adalah masyarakat yang masih beraliran “putih” alias orang – orang baik. Walau begitu, kenyataanya banyak kita menemukan kasus, cerita, keluhan dari rakyat Bali yang merasa dirugikan oleh praktek ilmu – ilmu semacam ini dan suatu penyebab ( cause) yang rata rata seragam yaitu dengki iri hati. Modelnya pun macam – macam, misalkan distribusi cetik ini akan tetap ada selama masih ada orang Bali yang iri dengan kesukseskan dan keberhasilan keluarga, saudara dan tetangga, atau bisa jadi akibat balas dendam turunan yang ditinggalkan leluhur kita. Dikalangan pejabat, sering kita dengar cerita bagaimana para elit kerap mendatangi balian, guru leak dan paranormal hanya untuk mencari kekuatan untuk kewibawaan atau kekuasaan yang cuma sesaat itu, atau kiprah ibu – ibu pejabat kita punya kebiasaan mencari ilmu hitam kesana kemari hanya untuk memagari sang suami agar tak selingkuh takut  dipoligami. Anak – anak muda Bali, kini mulai (juga) gemar berburu ilmu hitam,alasanya pun remeh temeh, kalau tidak karena kalah dalam persaingan,bisa jadi karena iri hati dengan teman yang lebih pintar,lebih keren dan lebih sukses berkarir atau hanya karena persaingan jodoh. Maka bisa dibayangkan,  berapa besar potensi ekonomi orang Bali yang terbuang karena membiayai ilmu – ilmu semacam ini. Seperti kata saya tadi, bahwa jumlah manusia – manusia yang berilmu hitam ini sesungguhnya tidak banyak, tapi menjadi “kelihatan” banyak disuburkan oleh budaya negative thinking orang Bali yang  cukup mendominasi, sehingga, mereka yang baik – baikpun akhirnya tertuduh dan akibatnya memunculkan konflik terpendam.

Padahal hal ini bukan sesuatu yang baru, budaya cetik, leak dan ilmu desti sudah ada sejak zaman leluhur orang Bali, budaya ini sudah merajalela karena manusia Bali adalah komunitas priyai yang selalu bangga dengan nama besar leluhur tapi minim etos kerja. Dan sudah biasa, yang namanya priyai pasti ingin segala sesuatunya besifat instan termasuk juga bagaimana berpikir cepat untuk menyakiti, membunuh dan menyingkirkan orang – orang yang tidak disukai secara instan pula. Sampai pola pikir ini menyebabkan budaya black magic ini tetap punya konsumen, punya pangsa pasar dan memiliki pelanggan tetap. Ada juga yang membuat saya heran. Kok rasanya kebanyakan dari orang Bali ini mempunyai setia ber-irihati dengan sesama orang Bali, semasa umat Hindu alias sesame semeton dan braya.Jarang kita mendengar, ada orang Bali yang iri hati dengan kaum pendatang atau bule misalnya. Dibidang bisnis, orang kita cuma berani bersaing dengan sesama orang Bali, ga ada tuh cerita orang Bali yang gagah berani menghadapi pebisnis dan pesaing dari Jawa atau luar negeri. Mereka tidak keberatan kalau orang Jakarta dan orang Bule punya pabrik atau hotel besar, tapi langsung iri hati kalau ada orang Bali maju dibidang bisnis. Begitu juga persaingan dalam bidang politik dan kepemimpinan, saya kira orang Bali cuma jago bicara jika dikandang sendiri dan pintar menghadapi saudara sendiri tapi pengecut ketika berhadapan dengan pemerintah pusat.

Lihat saja polah pejabat yang orang Bali di Jakarta yang jarang dikenal dipublik nasional. Semuanya diam, bahkan saya kira ilmu cetik orang Balipun ga mempan buat orang – orang Jakarta itu. Mungkin ilmu leaknya Bali, masih kurang sakti dengan ilmu santet dari tanah Jawa. Jujur, sebagai anak muda Bali saya malu dengan kondisi ini. Walau tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dan aspek hukum, tetap saja hal ini masih sangat menggejala. Terlepas dari semua itu, saya berharap besar pada generasi muda Bali yang hidup pada zaman facebook dan MTV, semoga mereka tidak dibebani dengan hal – hal semacam ini ketika mereka nanti menggenggam kekuasaan ditanah Bali. Biarkan anak – anak muda kita berkuasa dibidang ekonomi, budaya, agama, politik dan sebagainya dengan etos kerja dan revolusi pikiran yang modern namun tetap berpegangan pada nilai – nilai Bali yang baik. Kini tugas kita sebagai orang tua, para senior untuk terus menghidupkan kultur positive thinking, ajarkan anak – anak kita untuk selalu mengucapkan selamat kepada keluarga, tetangga dan teman mereka yang berprestasi. Biasakan kita tersenyum dan memuji orang lain, dan ringankan tangan kita untuk kerap memberikan rasa simpati atas keberhasilan orang lain, ya hitung – hitung sambil menunggu matinya sisa – sisa generasi cetik dan generasi leak yang ada disekitar kita. Peganglah ilmu Tuhan dan Weda, maka alam Bali pun akan dipenuhi oleh jiwa – jiwa suci yang berwatak dewata.

About halmahera